Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
ALLAH MAHA NYATA DARI SEGALA YANG NYATA.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.



Di dalam ajaran Musyahadah (penyaksian) terhadap Allah Swt. terdapat suatu prinsip yang paling mendasar, yakni; "keyakinan yang tertanam pada batin bahwa Allah Maha Nyata dibanding dari segala yang nyata dan Allah Maha Dekat dari segala yang dekat." Tanpa keyakinan demikian janganlah diharapkan akan mendapatkan nikmat rasa Musyahadah yang sebenarnya.

Allah SWT. berfirman:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ.

"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ .

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf 50: Ayat 16)

Ajaran agama secara keseluruhan diawali dengan yakin dan percaya. Berbeda dengan ilmu pengetahuan eksak yang pada umumnya harus lebih dahulu mampu memberi jawaban beberapa macam dan bentuk pertanyaan-pertanyaan, barulah kemudian bisa ditemukan keyakinan. Seorang yang belajar bela diri misalnya, pada waktu ia akan mengadakan uji coba dengan memotong sebuah balok es atau beberapa potong bata, tentu diawali dengan auto sugesti (sugesti pribadi) yang tentu saja dengan beberapa latihan-latihan yang dilakukan sebelumnya bahwa dia harus merasa yakin akan mampu memotong balokan es atau bata-bata itu dengan tangannya. Bila dia merasa ragu antara dapat atau tidak, maka betapapun juga usahanya tidak akan berhasil.

Yakin, yang berasal dari bahasa Arab "yaqiinun". Sementara para ahli mendefinisikan sebagai berikut: ”Yakin adalah kecenderungan batin manusia untuk memastikan benar atau tidak benarnya sesuatu dengan melalui sebab atau tidak melalui sebab”.

Karena ”Yakin” termasuk suatu kecenderungan batin, sedang batin itu sendiri bukan urusan langsung manusia, tetapi diurus oleh Allah Swt., maka seyogyanya manusia memohon kepada_Nya agar memberikan dan memantapkan keyakinan itu pada batin. Tanpa karunia dan limpahan Allah Swt., tidak akan seseorang bisa menemukan apa yang dinamakan yakin.

Ulama sufi berpendapat:

اَلْيَقِيْنُ هُوَاعِلْمُ الْمُسْتَوْدَعُ فِى الْقُلُوْبِ يُشِيْرُ هٰذَا الْقَلِلُ اِلٰى اَنَّهُ غَيْرُ مُكْتَسَبٍ.

"Yakin, adalah ilmu yang diletakkan pada hati, hal ini menunjukkan bahwa ilmu yakin itu tidak termasuk ilmu yang bisa diusahakan". (Risalah Al Qusyairy).

Ilmu-yaqin, 'ainul-yaqin, haqqul-yaqin dan tentang hijab (dinding) mata hati.

Keyakinan seseorang antara satu dengan yang lain meskipun menghadapi persoalan yang sama, tidaklah sama kadarnya. Mungkin belum ada alat yang dapat mengukur kadar dan tingkat keyakinan seseorang

Namun demikian terdapat beberapa rumusan yang ada hubungannya dengan masalah yakin:

a. Ilmul-Yakin ialah keyakinan yang timbul setelah adanya beberapa keterangan dan dalil. Sehubungan dengan musyahadah dirumuskan sebagai berikut:

عِلْمُ الْيَقِيْنِ اَلَّذِى هُوَمَعْرِفَتُهُ تَعَلٰى بِالْبَرَا هِيْنَ .

"Ilmul Yakin, ialah makrifat kepada Allah Ta'ala dengan beberapa keterangan". (Siraj. Tholibin).

b. 'Ainul Yakin, ialah keyakinan berdasarkan kenyataan. Tidak ada alasan apapun yang mampu menolaknya, bila kenyataan itu ada.

وَمُشَاهَدَتُهُ تَعَلٰى قَبْلَ كُلِّ شَوْءِ وَهُوَالْمُسَمَّى عِنْدَهُمْ بِاالْمُعَايَنَةِ.

"Musyahadah terhadap Allah Ta'ala sebelum menyaksikan segala sesuatu yang menurut Para 'Arif disebut 'Mu'ayanah (kenyataan/pembuktian). Hal ini adalah 'ainul-yakin".

c. Haqqul-yakin, ialah keyakinan yang sebenarnya. Musyahadah terhadap Allah Swt. secara nyata dan meyakinkan, tanpa dalil dan pembuktian.

حَقٌالْيَقِيْنِ هُوَ مُشَاهَدَتُهُ تَعَالَى فِى كُلِّ شَىءٍ بِالاَحُلُوْلٍــ وَاتِحَادٍ وَانْفِصَالـــٍ وَلَااءِتصَالـــٍ .

"Haqqul-yakin, ialah musyahadah terhadap Allah Swt. dalam segala sesuatu, tanpa hulul (bersatu) tanpa Ittihad (terpadu) tanpa ittishol (bersambung) dan tanpa infishol (berhubung-berhubungan)".

Kalimat-kalimat yang dikutip dari kitab Al Hikam (Ahmad Ibnu ''Athoillah) pada no. 5 sampai dengan no. 10. di atas, adalah rumusan dalam arti 'ilmu yakin. Yang dengan keterangan-keterangan tersebut, menunjukkan bahwa tidak ada satupun yang bisa mendindingi Allah. ke-Maha Nyata an Allah, Ke- Maha dekatan Allah dan Maha Besarnya Allah, sudah harus diyakini kepastian dan kebenarannya. Jadi jelaslah bahwa yang terdinding/terhijab itu adalah manusia sendiri. Hijab atau dinding yang menutupi pandangan batin manusia antara lain adalah:

  1. Keingkaran.
  2. Kebodohan/ketidak adanya pengertian.
  3. Prasangka buruk.
  4. Terlalu sibuk dengan urusan duniawi, mengabaikan urusan ukhrawi.

Keingkaran adalah sinonim dengan kekufuran. Sekaligus juga sumber dari segala kemaksiatan lahir dan batin. Orang yang ingkar terhadap existensi dirinya sendiri yang memiliki naluri berkepercayaan/beragama yang oleh kalangan ahli jiwa disebut "naturaliter religeusa" (Prof.C.G. Yung ). Keingkaranlah yang membuat orang bersikap tidak perduli halal dan haram, semua cara bisa ditempuh asal tujuan tercapai. Mungkin saja terjadi, seseorang yang ingkar kepada Allah Maha Pencipta, tetapi di satu pihak masih menghormati dan menjaga dengan etika pergaulan dalam masyarakat, berbuat baik kepada sesama, jujur, serta sopan, namun sikap demikian tidak tentu permanen. Di tengah-tengah masyarakat yang relatif masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etik, seseorang yang ingkar kepada Tuhan akan mampu berintegrasi pada keadaan. Sebaliknya bila berada dalam lingkungan masyarakat yang "berprinsip bebas tanpa kendali" satu lingkungan masyarakat yang tidak mengenal makna dan arti moral dan etik sepanjang ukuran Agama, orang itu akan cenderung kepada pola hidup "barbarisme" dengan dalih bahwa kebebasan adalah moral yang paling hakiki.

Tepat apa yang dikemukakan oleh sementara Arif Billah:

اَلْحَقِيْقَةُ الرَّبَّانِيَّةُ اَلتَّى تُمَيِّزُبَيْنَ الإِنْسِ وَالْحَيَوَانِ.

"Hakikat Ketuhanan (yang ada pada diri manusia) yang membedakan antara manusia dengan binatang".

Kebodohan/ketidak adanya pengertian seseorang terhadap Tuhan, maka orang demikian akan mudah terombang-ambing dan tanpa punya pendirian dalam beragama.

Kebodohan yang dimaksudkan ini bukan berarti karena rendahnya tingkat intelegensia (kecerdasan), karena banyak kenyataan bahwa seseorang yang tingkat kecerdasan berada di bawah standar, namun ketekunannya melakukan ibadah cukup meyakinkan.

Dengan kebodohan dan ketidak tahuan/pengertian kepada agama itu, bisa saja terjadi sikap dan perilakunya malah bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya. Orang yang demikian berpendirian bahwa soal meyakini dan percaya kepada Tuhan adalah hal yang simple. Dianggapnya tidak begitu penting. Asal tahu Tuhan ada dan Tuhan Esa, katanya itu sudah cukup. Kenapa harus bertele-tele …… Orang yang demikian, mungkin saja dia sukses dalam kehidupan dunia dan materi atau tergolong ……yang terhormat ……maka untuk mereka Allah berfirman:

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَاۤ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَا ۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰـكِنْ تَعْمَى الْـقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ .

"Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj 22: Ayat 46)

وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖۤ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا . "Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 72)

Tidak adanya pengertian dan ketidak tahuan terhadap Tuhan diistilahkan oleh Allah Swt. dengan kebutaan.

Demikian pula dengan adanya prasangka buruk terhadap ajaran tasawuf Ketuhanan dan berprasangka buruk terhadap diri sendiri dengan dalih "ini ilmunya orang wali, bukan ilmunya orang awam seperti kita", maka hal ini juga merupakan hijab/dinding yang menutupi seseorang untuk bisa merasakan kenikmatan makrifat dan musyahadah, ilmu wali adalah juga ilmunya Rasulullah Saw. karena dari beliaulah para wali Allah dapat menyauk ilmu dan 'Irfan dan dari Rasulullah Saw. juga para wali mengambil tauladan.

Selanjutnya, bila hati dipenuhi dengan urusan duniawi, kadang-kadang tidur tak nyenyak, problema yang satu hilang datang problema yang lain, rasa ingin beribadah tambah hari tambah turun, keinginan untuk mempelajari ilmu agama khususnya ilmu Ketuhanan, pada waktu keadaan ekonomi hidup pas-pasan menggebu-gebu tetapi setelah rejeki naik daun, timbul rasa malas. Yang paling tragis lagi bila tumbuh tanggapan di dalam hatinya " membuang-buang waktu saja ".

Menurut Syekh Muhamad Nafis bin Idris Al Banjari, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang gugur sebelum sampai ke tujuan, yang selanjutnya tidak akan mungkin orang itu dapat merasakan kenikmatan makrifat dan musyahadah:

  1. Kasl (malas).
  2. Fitur (bimbang/lemah pendirian.
  3. Malal (pembosan).

Selain itu, ada pula faktor-faktor yang "menggagalkan" meskipun ke-empat faktor yang menggugurkan dapat diatasi. Yaitu "syirik-khofi" Yang dimaksud syirik khofi itu ialah:

  1. Ria (pamer).
  2. 'Ujub (merasa gagah/hebat sendiri).
  3. Sum'ah (membangga-banggakan diri untuk mendapatkan pujian orang lain).
  4. Hijb/Hajb (tertutup hatinya karena merasa ilmu dan amalnya sudah dianggap lebih dari cukup).

Ke empat faktor tersebut, adalah termasuk penyakit batin kelas berat. Setiap apa yang dinamakan "penyakit batin" adalah merupakan borok/koreng pada ujud ruh. Bilamana sebelum akhir hayat penyakit tersebut tidak pula sembuh, maka ruh itu akan berteriak kesakitan pada saat keluarnya dari tubuh atau sesudah. Rasulullah menegaskan bahwa ruh yang semacam itu dinamakan "Ruhul-khobista" (ruh yang paling jelek). Digambarkan oleh Rasulullah, Malaikat maut ketika mencabut nyawa manusia yang penuh penyakit (baca: penyakit batin) itu sambil menutup penciumannya karena bau busuk yang tidak terkira. Na'udzubilah min dzalik.

Bagaimanakah upaya untuk menghilangkan hijab dan penyakit-penyakit itu? Jawabannya tergantung dengan ketekunan dan kesungguhan untuk mengantisipasi semua macam penyakit batin seperti yang tersebut itu. Hal mana sepenuhnya harus disadari bahwa faktor-faktor itu benar-benar suatu penyakit yang yang perlu ditanggulangi.

Bilamana seseorang yang ingin terjun ke lapangan kebatinan, khususnya mereka yang mengharapkan untuk mendapatkan ilmu makrifat dan menikmati musyahadah, tidak bisa tidak harus menyadari sepenuhnya tentang besarnya bahayanya penyakit-penyakit itu. Seseorang pemabok minuman keras ataupun seorang penjudi akan sulit meninggalkan kebiasaannya itu, bila dia tidak menyadari sepenuhnya betapa bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kedua macam penyakit; alkohol dan judi.

🙏

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 35)


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.