LATIHAN-LATIHAN (RIYADLOH) BERMUSYAHADAH.

Meskipun MUSYAHADAH pada dasarnya bukan upaya hamba, tetapi benar-benar tergantung sepenuhnya atas ”masyatullah” (kehendak Allah), namun para 'Arif Billah yang sudah punya pengalaman dalam hal ini memberikan beberapa petunjuk untuk memudahkan seseorang mendapatkannya. Adapun latihan-latihan ini tidak berarti memastikan keberhasilannya tetapi disisi lain tetap mendapat nilai tinggi dan termasuk dalam kategori ”musyahadah bil'ilmi”.
Dalam ilmu Makrifat terdapat dua metode latihan bermusyahadah:
- Musyahadah lidz-Dzat (Musyahadah Zat).
- Musyahadatun Nur ( Musyahadah Nur).
Kedua metode ini pada dasarnya adalah satu kesatuan, sama sekali tidak ada tingkat dan tidak pula terpisah.
A. Musyahadah Zat (Dzat)
Yang dimaksudkan Musyahadah Zat bukan dalam arti "penyaksian keadaan wujud Zat" (Kunhi Zat). Karena suatu hal yang mustahil untuk bisa menyaksikan Kunhi Zat Allah Swt. Allah adalah "Laista kamisthili syai'un" (tidak ada seumpamanya). Dia bukan j+1 Jirim, bukan 'aradl dan bukan pula jisim. Prinsip Laisa ini harus menjadi dasar pegangan jangan sampai bergeser sedikitpun. Sebelum melakukan latihan (riyadloh) ada 4 (empat) hal yang harus sudah di mengerti dan dipahami dengan penuh yakin:
- Tauhidul Ap'al (Ke-Esaan-an Perbuatan).
- Tauhidul Asma (Ke-Esaan-an nama).
- Tauhidus Shifat (Ke-Esaan-an Sifat).
- Tauhiduz-Dzat (Ke-Esaan-an zat).
Ke-empat-empatnya termasuk dalam ruang lingkup ”Musyahadah lidz-Dzat”. (baca: Permata Yang Indah - Ad. Durrunnafis).
B. Musyahadah- Nur.
Dalam rangka melatih Musyahadah Nur perlu lebih dahulu memahami suatu ajaran yang disebut MARTABAT TUJUH atau biasa disebut juga MARTABAT TANAZZUL. Meskipun ajaran tersebut oleh sementara orang dikatakan berbau filsafat namun pada isi ajarannya tetap berlandaskan Al Qur'an dan hadits Rasulullah Saw. serta pendapat-pendapat yang rosikh (punya alasan yang kuat) dari keterangan para Arif Bilah.
Dalam ajaran ini difokuskan kepada ajaran tentang NUR MUHAMMAD yang menurut Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjarie cara ini adalah salah satu cara yang dapat mempercepat seseorang sampai kepada tujuan. Tentang Nur Muhammad adalah salah satu masalah khilafiyah (perbedaan pendapat). Oleh sebab itu tergantung seseorang menurut sepanjang apa yang dikaji dan dipegangnya. Hanya satu catatan, siapa yang telah mengambil ijazah dari seorang guru tentang Martabat Tujuh maka mau tidak mau dia wajib memegang keyakinan itu.
Allah SWT berfirman:
وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ ۗ هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ هُوَ سَمّٰٮكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ ۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ .
"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 78)
"Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu."
(QS. At-Talaq 65: Ayat 12)
Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.
