Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
KAIFIYAT (TATA CARA) LATIHAN MUSYAHADAH. (1)




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.



Secara umum, riyadloh atau latihan yang dikemukakan disini hanya sekedar menunjukkan latihan sepintas lalu/tidak rinci. Kepada peminat dianjurkan agar secara khusus mempelajarinya kepada seorang guru yang punya identitas sebagai seorang MURSYID (penuntun di bidang kebatinan) yang sebelumnya perlu diamati bahwa Mursyid itu benar-benar menguasai bidang, dasar ajarannya, -mu'tabar atau -. Yang dicontoh ini berkenaan dengan syuhud (pandangan batin) terhadap WIHDATUL AP'AL/Tauhidul Ap'al sebagai berikut:

Memandang/syuhud terhadap diri sendiri.

Kita sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa diri ini dengan seluruh kelengkapannya adalah ciptaan Allah. Dia yang menghidupkan. Dia yang pada hakikatnya memberi makan, minum, memberi rezeki dan sebagainya. Semua itu adalah ap'al Allah SWT.

Bagaimana tentang sikap hidup, perbuatan kita apakah dari kita sendiri? Dalam arti lahir dan kenyataan pandangan mata adalah dari kita sendiri. Tetapi apakah pandangan lahir itu dapat memastikan dalam arti hakiki (yang sebenarnya) bahwa itu mutlak begitu? Bukankah Allah SWT. secara tegas menjelaskan:

وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ مَـاتَعْمَلُوْنَ.

"Allah yang menciptakan kamu, dan menciptakan apa yang kamu lakukan". (QS. As-Shoffat : 96).

Pada waktu perang Khandaq (perang parit) pihak Abu Jahal dan kawan-kawannya menyerang kota Madinah yang dikuasai oleh Kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah Saw. Serangan itu dilakukan oleh suatu pasukan yang cukup besar didukung oleh pasukan berkuda. Sedang penduduk Islam yang ada di Madinah termasuk para wanitanya hanya berjumlah kurang lebih 3.000 orang. Kekuatan jelas tidak seimbang. Pembuatan parit yang sebelumnya adalah prakarsa dari Salman Al-Farisi cukup besar manfaatnya. Namun demikian dalam peperangan itu pasukan Muslim sudah hampir kewalahan. Dalam keadaan kritis, datang wahyu Allah agar Rasulullah melemparkan segenggam pasir kepada musuh-musuhnya. Ternyata setiap biji pasir yang dilemparkan itu mengenai mata setiap orang dari pasukan musuh dan juga mata-mata kuda-kuda yang mereka tunggangi. Dengan demikian pihak penyerang (Abu Jahal dkk) terpaksa lari terbirit-birit meninggalkan arena/medan perang kembali ke Mekkah. Atas hasil kemenangan itu, mungkin dengan maksud agar pasukan Rasulullah jangan sampai merasa takabur atas hasil yang mereka capai, Allah berfirman:

وَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ قَتَلُهُمْ وَمَـا رَهَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ

”Bukan kamu (pasukan muslim) yang berperang dengan mereka (musuh), tetapi Allah-lah yang memerangi mereka. Bukan engkau (Hai Muhammad) yang melempar, tetapi Allah yang melempar. Allah uji orang mukmin dengan ujian yang baik, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ”. (QS. Al-Anfal: 17).

Yang nyata dan jelas pada peperangan itu adalah kaum mukminin/muslimin yang berperang dan Rasulullah yang ”melempar”. tetapi kenapa Allah SWT. mengatakan bahwa yang berperang dan yang melempar itu Allah SWT?

Dengan dasar dalil tersebut maka para arif meyakini benar bahwa ”apapun yang dilakukan oleh hamba, pada hakikatnya adalah perbuatan Allah yang disandarkan kepada hamba”. Hamba hanyalah ”mazhhar” (objek perbuatan Nya) yang pada hakikatnya mazhhar itu hanyalah ”majaz” (bayangan) semata-mata.

Dengan uraian tersebut hendaklah dimusyahadahkan, apa saja yang dilakukan oleh diri sendiri, orang lain, seluruh peristiwa dan keadaan adalah AP'AL ALLAH PADA HAKIKATNYA.

Kita pandang dan renungkan diri ini, banyak pekerjaan yang dilakukan oleh diri di hari ini. Apa saja yang telah dibuatnya semenit yang lalu. Berapa jumlah getaran dan gerak mata selama waktu semenit itu? Bunyi apa saja yang terdengar, perasaan dan pikiran apa saja yang terlintas? Ternyata …tidak mampu memberi jawaban rinci dan mendetail …. Setelah direnungkan lagi, ada bagian-bagian pada diri, denyutan jantung, peredaran darah di dalam tubuh, datangnya penyakit, ternyata tidak mampu dikuasai oleh diri. Siapa yang menggerakkannya dan melakukan itu semua? … diam. Tak ada jawab.

Mungkin itu karena, adanya daya hidup sebagai penggerak. Daya hidup itu disebut r u h. Pertanyaan berikutnya; ”r u h atau daya hidup yang tidak berwujud dan tak tampak oleh mata, bagaimana mungkin dapat bersenyawa dengan tubuh kasar ini? …diam. Apa dan kenapa bisa timbul apa yang dinamakan kehendak? Hati berkehendak menggerakkan tangan dan kaki, lalu tangan dan kaki bergerak sesuai dengan kehendak hati, kenapa hubungan itu bisa terjadi? Kata orang, si hati berhubungan dengan syaraf otak lalu syaraf otak mengirim sain (sign) itu kepada syaraf tangan dan kaki sehingga terjadilah gerakan. Bagaimana bisa terjadi hubungan dan keterpaduan antara hati, otak dan anggota dengan kecepatan tinggi??? Apa mungkin ada unsur lain yang lebih dominan (menguasai) terhadap diri? Seperti sebuah mobil misalnya, meskipun, mobil itu masih gress, bahan bakarnya cukup, tetapi nyatanya yang lebih dominan adalah sopir dengan menggerakkan kunci kontak dan menginjak starter. Bukankah sopir itu bukan mobil atau dengan kata lain. Pak sopir adalah unsur lain dari mobil? …. Tambah tinggi bobot pertanyaan, tambah hening, diam tiada jawab.

Di sinilah si diri mengakui kelemahannya, kekurangannya, kebodohannya, ketidak mampunya secara keseluruhan. Dia f a n a. Sama sekali tiada arti dibanding dengan Allah SWT. yang lebih berkuasa dan menguasai dirinya.

Akhirnya si diri dengan suara sendu melampiaskan suara hatinya: ”Nyata sekali, bahwa diriku ini pada hakikatnya hanyalah laksana wayang di tangan seorang dalang”.

🙏

Sholat itu tiang agama barang siapa yang mendirikannya maka ia adalah mendirikan agama, barang siapa yang meninggalkannya maka ia meruntuhkannya. [Hadits]


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.