Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.


AL-KAUN (ALAM, KEADAAN DAN PERISTIWA).




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

KAUN/KAUNUN artinya keadaan, peristiwa, kejadian. Secara keseluruhan bisa diartikan dengan "keadaan alam". Jamaknya ka-inaat.

Dalam istilah tasawuf terdapat banyak bentuk kata persamaannya, seperti kata "aghyaar" (yang lain-lain) maksudnya "yang selain Allah". Ada pula perkataan " mumkinaat " jamak dari perkataan "mumkin" diartikan "makhluk".

Jelasnya, segala yang selain Allah, digunakan istilah; ka-inaat, aghyaar, mumkinaat, dan lain-lain. Semua itu adalah fana yang kekal abadi hanyalah Allah Swt.

Syekh 'Arif Billah Ahmad Ibnu A'thoillah dengan kata hikmahnya itu (no.2) menegaskan bahwa segala kaun/ka-inaat ini adalah "zhulmatun" (kegelapan). Hal ini dapatlah dimengerti bila kita misalkan bahwa tanpa cahaya seseorang tak akan melihat apa-apa. Mata tidak akan berfungsi apa-apa bila tidak ada cahaya sedikitpun. Justru karena adanya cahaya itulah maka seseorang bisa melihat. Dengan demikian maka sebelum seseorang itu dapat mengerti apa yang dilihatnya atau pada ketika dia melihat ataupun sesudah dia melihat sesuatu yang terlihat adalah cahaya. Cahaya yang meliputi pandangan mata dan cahaya pula yang meliputi apa yang dipandang oleh mata. Bila seseorang melihat sebuah rumah yang terletak di atas sebidang tanah beserta tamannya yang indah, maka penglihatannya itu tidak dihubungkannya dengan adanya cahaya yang membias dan menerpa rumah dan pandangan mata, maka orang itu dianggap belum memahami keadaan yang sebenarnya.

Namun demikian, betapapun terangnya keadaan kalau mata tertutup dengan plester hitam dan bias cahaya tidak menerpa pandangan mata, maka pasti tidak akan dapat melihat apa-apa. Tutupan itulah yang dimaksudkan dengan "bisuhubil aastar". (awan kebendaan)

Musyahadah atau penyaksian terhadap AL-HAQ, tentu mengharapkan tembusan sinar kebenaran yang menelusup ke dalam jiwa, perasaan dan hati, sinar yang dinamakan "nur ma'rifat". Dengan nur-makrifat itulah seorang 'Arif bermusyahadah.

Untuk suatu penyaksian (musyahadah) terdapat tiga macam alat batin;

  1. Bashirah (pandangan batin).
  2. 'Ainul-Bashirah (pandangan mata batin).
  3. Syi'a-ul Bashirah (nyala pandangan batin.

Banyak faktor yang bisa menutupi pandangan batin sehingga sulit untuk melihat dan menyaksikan kebenaran yang hakiki. Lebih-lebih bila syahwat dan kenafsuan sudah menguasai terlalu dalam terhadap diri. Sudah ”mukabbalun bisyahwatihi” (ditunggangi oleh syahwatnya) Imam Al-Ghazali r.a. memisalkan hati sebagai kepingan baja hitam. Meskipun bagaimana hitamnya kepingan baja itu, bila diasah secara tekun dan kontinyu (terus menerus) pasti akan menjadi putih licin dan bersih, dan mampu untuk menerima bayangan dari arah manapun juga. Demikianlah keadaan hati bila dijaga dengan baik dan benar, dibersihkan dari karat-karat yang melekat dan meletakkan arahnya dalam keadaan yang tepat dan benar pula, maka hati akan sanggup menerima bayangan tulisan yang ada pada Loh Mahfuzh. Dalam suatu hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Ibnu 'Umar r.a. :

”Sesungguhnya langit dan bumi tidak mampu untuk menampung Aku. Hanya hati orang yang beriman yang sanggup menerima”.

Dalam Al Qur'an Allah berfirman:

اِنَّاعَرَضْنَـاالْاَمَـانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَـالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمٍلْنَهَا وَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُ اِنَّهُ كَانَ جَلُوْمًـاجَهُوْلاً .

”Sesungguhnya Kami telah menawarkan ”amanah” kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun mereka enggan menerima/menanggungnya dan mereka khawatir lalu manusialah yang bersedia menerimanya. Sungguh manusia menyakiti dirinya sendiri dia dzalim lagi bodoh”.(QS. Al-Ahzaab : 72).

Berat tanggung jawab manusia, dan berat pula untuk menerima Al-Haq. Tetapi di satu pihak Allah berikan kemampuan untuk menerimanya, suatu pemberian dan anugerah yang amat mulia dan paling berharga.

لاَيُكَلِفُ اللّٰهُ نَفْسًـااِلَّاوُسْعَهَا .

”Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”. (Al-Baqarah).

Dalam kitab Tanwirul Qulub dijelaskan bahwa jiwa manusia pada asalnya adalah ”lathifah-rabani-yah” (cahaya ketuhanan) dan dekat sekali hubungannya dengan Allah Swt. Selalu memuja dan memuji serta tasbih, yang diketahuinya hanya Allah semata-mata. Akan tetapi setelah jiwa itu berhubungan dengan jasad barulah jiwa itu mengerti bahwa ada yang lain lagi selain Allah Swt. Di sinilah titik awal dari apa yang disebut ”lupa”. Lupa terhadap keaslian dirinya sebagai ”lathifah-rabani-yah”. Lupa terhadap tugas yang harus diembannya karena segala yang lain dari Allah (ka-inat, kaun/aghyaar) yang baru diketahuinya itu telah mampu menguasai jiwanya. MUNTHOBI 'ATAN FI MIR 'ATIHI (melekat pada lensa mata hatinya). Di sinilah perlunya peringatan yang dibawa oleh para Rasul, juga peringatan yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفعُ اْلمُؤْمِنِيْنَ .

”Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin”. (Adz Dzaariyaat: 55).

Melaksanakan apa yang diingatkan oleh Rasulullah Saw. berupa larangan dan perintah, merupakan pembersih hati, jiwa dan perasaan yang paling tepat dan paling berguna.

Jiwa yang tadinya sebelum dibungkus dengan jasad dalam keadaan bersih dan suci, dengan pembersihan itu akan kembali seperti semula dapat menyaksikan AL-HAQ seperti dahulu. Selanjutnya dapat pula menyaksikan 'Arasy, Kursi dan lain-lain yang berada dalam alam Malakut.

(3). "Penyaksian/pandangan Yang Esa pada jumlah yang banyak. Penyaksian/pandangan terhadap yang banyak pada yang Esa" (Ad-Durrunnafis).

(4). "Al-Musyahadah adalah kehadiran AL-HAQ tanpa adanya prasangka". (Risalatul Qusyairiyah).

Yang Esa pada yang banyak, yang banyak pada yang yang Esa.

Rumusan ini tidak termasuk dalam ajaran Wihdatul Wujud, dia ada dalam rumusan ajaran Wihdatus-Syuhud. Pada dasarnya istilah apapun yang dipergunakan dalam ajaran ilmu makrifat tidaklah bisa dipersalahkan selama istilah-istilah itu tidak bertentangan dengan syara', atau rumusan-rumusan itu tidak membawa pengaruh buruk terhadap iktikad yang sudah menjadi pegangan umat. Misalnya, rumusan tentang Ke-Tuhanan dan Kenabian Ahmadiyah, semufakat para ulama di Indonesia untuk tidak menerimanya. Karena dianggap bergesar dari ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sudah mapan dalam masyarakat Islam di Indonesia ini.

Sehubungan dengan rumus yang tercantum pada no. 3 haruslah diartikan dalam rangka penyempurnaan iman dan tauhid sehingga benar-benar dapat dirasakan makna yang sebenarnya dari/tentang Esa_Nya Allah Swt. Kalimat: Yang Esa pada yang banyak, maksudnya adalah pada waktu menyaksikan/memandang yang banyak; berupa benda, keadaan, ataupun bentuk, maka timbullah pada dhihin (pikiran) ”dari mana datangnya yang sebanyak ini? ”, kemudian-setelah dibolak-balik tanya dan jawab, maka jawaban puncak adalah bahwa semua ini tidak bisa tidak pasti dari Allah Al Kholiq Yang Maha Esa. Rumusan pada no. 3 itu ternyata bersesuaian dengan apa yang dikatakan oleh Imam Al Asy'ari r.a. (pembangun Faham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah).

اَلْوُجُوْدُ عَيْنُ الْمَوْدِ .

”Al-Wujud adalah kenyataan maujud”.

Bila syuhud/musyahadah itu dalam mengambil keputusan terakhir (kata putus: Bahasa kitab kuning) "Semua ini dari Allah, dan dari Allah semua ini" yang disuarakan oleh hati dan keyakinan hasil dari renungan yang mendalam, maka musyahadah yang demikian sudah memadai. Keputusan akhir yang diambil berdasarkan apa yang diterima dari suatu pelajaran atau karena begitu yang tercantum dalam kitab-kitab, maka keputusan tersebut masih dalam kategori makrifat mutakallim atau makrifat taklid. Belum sampai kepada pengertian makrifat billah. Musyahadah dalam pengertian makrifat mutakallim (berdalil) atau makrifat taklid (ikut-ikutan) dinamakan Musyahadah bil'ilmi, belum mencapai tingkat musyahadah biz-dzauqy (perasaan).

musyahadah biz-dzauqy atau penyaksian dengan perasaan murni itu bisa saja langsung didapat oleh seseorang tanpa lebih dahulu "bil'ilmi" tetapi hal tersebut jarang terjadi. Ulama sufi menyebutnya dengan istilah "naadir". Semua itu tergantung ada atau tidak " jidzib" (tarikan) Allah Yang Maha Rahman.

Penyaksian dengan perasaan murni itu adalah suatu penyaksian yang tidak perlu diragukan lagi. Ketidak raguan itu ditanamkan oleh Allah pada perasaan dan pikiran yang menemukannya. Sehingga, tidak sedikitpun ada prasangka bahwa yang disaksikan itu lain dari Al-Haq.

Ada orang yang datang kepada penulis menceritakan pengalamannya sewaktu dia sedang dalam Khalwat. Tiba-tiba dia melihat serangkum cahaya yang luar biasa. Keindahan cahaya itu tidak dapat digambarkan. Dan dia tidak melihat ada yang lain selain dari cahaya itu. Yang ditanyakan katanya: "Apakah yang saya lihat itu Al-Haq?". Secara spontan penulis menjawabnya "Yang saudara lihat itu bukan Al Haq. Tetapi cahaya". Dia bertanya lagi: " kenapa bapak dengan secara pasti menyatakan bahwa itu bukan "Al-Haq?". Penulis menjawab: "Karena saudara bertanya. Seseorang yang benar-benar menyaksikan Al-Haq, tidak ada sedikitpun dalam ruang pikir dan hatinya suatu tanda tanya. Tiap-tiap ada pertanyaan berarti ada unsur keragu-raguan". Selanjutnya penulis memberikan suatu contoh: " Ini sebungkus rokok. Rokok ini seakan-akan berkata berkata kepada saya, "saya rokok". Saya tidak ragu-ragu bahwa ini adalah rokok. Seribu orang menyatakan lain, saya tetap mengatakannya rokok. Dan saya tidak perlu bertanya kepada siapapun juga, apa benar ini rokok atau tidak".

Ini sekedar suatu contoh, sejalan dengan bunyi yang dimaksud pada jemputan kata no. 4.

5. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal Dia-lah yang men-zahirkan sesuatu". (Al-Hikam).

6. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal Dia-lah yang tampak pada segala sesuatu". (Al-Hikam).

7. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal Dia Maha Nyata sebelum adanya sesuatu". (Al-Hikam).

8. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat didinding oleh sesuatu, padahal Dia lebih nyata dari sesuatu". (Al-Hikam).

9. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal kalau tidak Dia, tidak ada segala sesuatu". (Al-Hikam).

10. "Alangkah ajaibnya, Bagaimana mungkin Yang Maha Ada bisa Zhahir/nyata padahal di dalam yang tidak ada". (Al-Hikam).

🙏

”menuntut ilmu adalah taqwa menyampaikan ilmu adalah ibadah mengulang-ulang ilmu adalah dzikir mencari ilmu adalah jihad". (Imam Al-Ghazali ).


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan, K.H. Haderanie H.N.