Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.


PENDAHULUAN MUSYAHADAH




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Dari segi bahasa, perkataan MUSYAHADAH berasal dari rumpun kata ”syahida-syaahada” bersaksi-menyaksikan. Seseorang akan memasuki Agama Islam maka dia wajib mengucapkan dua Kalimah Syahadat yakni suatu kesaksiannya: ”AKU BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA TUHAN YANG PATUT DISEMBAH KECUALI ALLAH DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH”. Tanpa ucapan itu, maka orang tersebut belum bisa dikatakan penganut Agama Islam.

Untuk perkataan MUSYAHADAH ini, penulis menterjemahkannya dengan kata ”penyaksian”. Dalam kitab-kitab lama berbahasa melayu umumnya diartikan ”pandang syuhud ”, ialah: suatu pandangan batin sebagai suatu penyaksian yang tidak diragukan lagi.

Dalam ilmu tasawuf sehubungan dengan ajaran ilmu Makrifat terdapat banyak istilah yang mirip/hampir bersamaan atau istilah populernya, serupa tapi tak sama. Istilah-istilah itu antara lain :

  1. Mukasyafah (terbuka tirai).
  2. Muwajahah (berhadap-hadapan).
  3. Mulaqiyah (pertemuan).
  4. Muhadlorah (kehadiran) dan banyak lagi.

Semua istilah-istilah itu bersumber dari Al Qur'an ataupun hadits :

MUKASYAFAH, diambil dari ayat ”fa kasyafna 'anka ghithoaka” (Kami bukakan darimu tutupanmu).
MULAQIYAH, diambil antara lain ayat ”mulaqu rabbihim” (menjumpai Tuhan mereka) S. Al Baqarah : 46.
MUWAJAHAH, diambil dari ucapan Nabi Ibrahim a.s. tersebut dalam Al Qur'an ”wajjahtu wajhia lil-ladzi fatharas-samawati ……wa ana awwalul muslimin” (bacaan Do'a iftitah).

Penggunaan istilah-istilah ini dengan menggunakan istilah Al Qur'an, sedikitnya bisa ditegakkan sebagai hujjah (alasan) dan tidak ada alasan untuk bisa dipersalahkan.

Ucapan-ucapan Para Arif Billah yang berhubungan dengan musyahadah, mukasyafah, mahabbah dan sebagainya itu, umumnya dikemukakan dengan kalimat yang metaporistis yang memerlukan pemahaman dan pendalaman.

(1). ”Bagaimana mungkin hati akan cemerlang, sedang gambaran dari semua keadaan terlalu lekat pada lensa mata hatinya, atau bagaimana mungkin akan bisa menuju Allah sedang dia sendiri menjadi tunggangan nafsu syahwatnya.” (Al-Hikam).

(2). ”Segala keadaan dan peristiwa alam semesta ini seluruhnya menunjukkan kegelapan. Padahal yang memberikan cahaya pada semua itu karena amat nyatanya Al-Haq padanya. Siapa yang melihat semua keadaan tetapi tidak dia saksikan Allah Al-Haq padanya, atau pada saat melihatnya (kaun) atau sebelum dan sesudahnya maka sesungguhnya dia disilaukan oleh cahaya-cahaya itu dan tertutuplah matahari makrifatnya akibat tebalnya awan kebendaan”. (Al-Hikam).

🙏

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 69)


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.