MUJAHADAH DAN SARA'IR.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Mujahadah adalah salah satu metode untuk menuju makrifat, musyahadah dan mukasyafah. Berasal dari kata ”jahada” (berusaha keras) dan ”ijtahadah”. Mujahadah dalam ajaran ilmu Makrifat dapat didefinisikan: ”Kesungguhan hati dan perilaku dengan penuh ketekunan, mencari dan menghayati kebenaran hidup, (hakikat) sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul.
Mujahadah termasuk dalam katagori ajaran THORIQAT (jalan). Untuk mencapai suksesnya sesuatu perjuangan apapun dalam bentuk yang bagaimanapun juga tidak terlepas dari faktor kesungguhan, ketekunan, yang untuk ini kita sebutkan saja dengan faktor MUJAHADAH.
Allah Swt. berfirman :
وَجَـاهِـدُوافِى اللّٰهِ حَقَّ جِـهَـادِهٖ .
”Dan berjuanglah kamu pada agama Allah dengan sebenar-benar perjuangan.” (S. Al-Hajj : 78).
وَالَّذِيْنَ جَـاهَـدُوْا فِـيْنَـالَـنَهْدِ يَنَّهُمْ سُـــبُلَــنَـا
”Mereka yang bersungguh-sungguh dijalan Kami akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami.” (S. Al-'Ankabut : 69).
Hadits Rasulullah Saw. :
رَجَـعْــنَــامِـنْ جِــهَــادِالْأَصْغَرٍ اِلٰى جِــهَـَادِالْأَكْــبَـرِ وَهِىَ جِــهَـادُا لنَّـفْسِ .
”Kita kembali dari perjuangan kecil menuju perjuangan besar, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu”. (Hadits Shohih).
Mungkin dipertanyakan; ”dalam hal apakah MUJAHADAH atau kesungguhan ini harus dilakukan?” Pertanyaan ini dapat dijawab: ”Dalam upaya untuk mendapatkan karunia Allah berupa ilmu Makrifat, Musyahadah, Mukasyafah dan Mahabbah yang seyogyanya harus diperhatikan :
- Persiapan mental yang tinggi dengan niat yang bersih karena Allah semata-mata. Bukan karena ingin menjadi wali-karomah lalu dengan harapan supaya orang-orang pada kagum melihatnya.
- Meyakini ajaran tasawuf dan ilmu makrifat, tanpa sedikitpun ada keragu-raguan dengan mempelajarinya dari guru-guru (Syekh) yang benar-benar menguasai ilmu ini berdasarkan dalil-dalil naqal (Al Qur'an, Hadits, dan Kitab-kitab Mu'tabarah). Seorang guru yang hanya mengandalkan dengan cerita-cerita pengalaman dirinya sendiri (mendapat wangsit, ilham, mimpi bertemu Rasulullah, wali-wali dll) tetapi miskin dengan dalil dan nas, maka guru demikian disebut seorang guru yang tidak rosikh (tidak tepat). Mungkin pengalaman- pengalamannya yang diceritakan tentang dirinya itu benar saja, tetapi tidak harus dipegang. Kalaupun ceritanya itu benar-benar terjadi maka hal itu hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.
- Melaksanakan ”khalwat” (menyendiri) pada suatu tempat yang sepi tanpa kebisingan agar mudah untuk berkonsentrasi. Hendaknya khalwat ini dibawah pengawasan guru mursyid/Syekh.
Dalam khalwat inilah diperlukan kesungguhan dan ketekunan yang maksimal, karena dalam khalwat itu banyak yang harus dilakukan antara lain :
- dzikir, tasbih, tilawatul Qur'an (sesuai petunjuk Syekh/Guru/Mursyid).
- puasa.
- sahrul layali (berjaga malam) dengan mengamalkan apa yang diijazahkan oleh Guru/Syekh.
- Muraqabah (mengintip dirinya) dari pikiran-pikiran yang tidak dibenarkan oleh syara', pemusatan pikiran hanya kepada Allah.
Untuk ini Syekh Mahyuddin Ibnul 'Araby sebagai seorang Auliya dan Ahlul Kasyaf dan Ahlul Karomah mengemukakan dalam bentuk sebuah syair:
”Wahai orang-orang yang menginginkan pangkat abdal, tetapi tiada maksud untuk beramal, tidak mungkin anda dapat merasakannya, dan anda bukanlah ahlinya, bila anda tidak melaksanakan ahwalnya. Istana kewalian itu terbagi atas rukun-rukunnya, sepanjang pendapat penghulu-penghulu kita, yang diantaranya terdapat wali abdal, yaitu tidak banyak kata dan mengasingkan diri menahan lapar dan berjaga, memuji dan tasbih kepada Allah Yang Maha Tinggi.
Acara ”khalwat” memang tergolong suatu amalan yang cukup berat, memerlukan kehati-hatian dan ketelitian. Sering terjadi, mereka yang melaksanakan acara itu (khalwat) malah tidak menemukan hasil apa-apa atau kadang-kadang yang ditemui dalam Khalwatnya hanya Jin-jin. Si Jin bisa saja memberi petunjuk, padahal bertentangan dengan petunjuk syara' atau petunjuk yang agak samar. Karena tidak mengerti lalu petunjuk Jin itu diterima begitu saja.
Justru itulah, untuk ini perlu pengawasan Syekh/Guru yang dikalangan ahli Thoriqat disebutkan MURSYID (pemberi petunjuk) melakukan acara khalwat.
وَفِى فَنَـاءِى فَنَءِى وَجَدْتُ اَنْتَ .
”Dalam fanaku, lalu fana pulalah fanaku itu, di kefanaanku ini, kudapati Engkau.” (Saidina Ali bin Abi Thalib r.a.).
Demikianlah seorang yang bermujahadah, tekun dan sungguh-sungguh, si Mukmin yang Khalis sampai pada tingkat Musyahadah.”
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 69)
Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.
