TINGKATAN MAKRIFAT.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Sehubungan dengan adanya perbedaan tingkat makrifat tersebut pada no.15, baiklah kita kembali ke jemputan kata no.1 (Aiqazhul Himam) dijelaskan, bahwa tingkatan makrifat kepada Allah ada tiga tingkat:
- Makrifat dengan Allah.
- Makrifat dengan dalil.
- Makrifat ikut-ikutan (taklid).
Tingkat yang tertinggi dari ketiga tingkatan itu adalah ”makrifat kepada Allah dengan Allah” (lihat penj.2). Untuk mereka yang mencapai tingkat ”makrifat dengan Allah, terdapat perbedaan-perbedaan menurut ukuran apa yang telah terbuka buat mereka (no.15). Golongan inilah yang mencapai tingkat Auliya (Waliyullah).
Bermacam-macam karomah yang mereka dapatkan sesuai dengan tingkatan mereka di sisi Allah. Yang mengetahui benar derajat kewalian itu hanyalah Allah Swt sendiri, atau orang yang men-dapat pemberitahuan Allah tentang kewalian seseorang.
Diantara Para Auliya itu sendiri ada yang berkata:
وَمَنْ قَالَــــ اَنَّهُ وَلِىٌّ فَإٍنَّهُ كَذَّابٌ عَلـٰى اْلكَــذَّابِ.
”Siapa yang berkata bahwa dirinya sendiri adalah seorang Waliyullah maka orang itu adalah pendusta dari segala yang pendusta. ”
Seseorang yang hanya berada pada tingkat kedua, ”makrifat dengan dalil” belum tentu dapat mengerti tentang kewalian seseorang yang berada tingkat kewalian yang pertama, kecuali dia mendapatkan ilham dari Allah Swt adapun golongan awam bisa mengerti kedudukan seseorang pada tingkat pertama itu karena adanya pemberitahuan dari tingkat yang lebih tinggi darinya.
Sepanjang keterangan para ulama bahwa terdapat dua golongan Auliya Allah 1. Wali Istiqamah, 2. Wali Majdzub, Wali Istiqamah ialah seorang 'Arif Billah yang sikap lakunya sehari-hari seperti orang biasa, tetapi kegigihannya dalam menjalankan agama, keberaniannya, kepribadiannya, wibawanya di samping karomah yang Allah limpahkan kepadanya, seperti yang Allah firmankan:
اِنَّ اَوْلِيَاءَاللّٰهِ لَاضَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَاهُمْ يَحْزَنُوْنَ.
”Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa takut dan gentar ”. (QS. Yunus : 62).
Tentang Wali Majdzub, umumnya perilaku mereka berbeda dengan orang-orang kebiasaan, tetapi tidaklah berarti maksiat, karena untuk mereka Allah peliharakan dari hal-hal maksiat itu.
MAJDZUB artinya ditarik, yakni kewaliannya itu merupakan anugerah langsung dari Allah, untuk dirinya sendiri. Kalau WALI ISTIQAMAH mampu memimpin umat dan menyebarkan ajarannya, tidak demikian dengan WALI MAJDZUB.
Berkenaan dengan khutbah Saidina Abu Bakar r.a. yang disampaikan oleh Imam Al Junaid hendaknya bisa dipahami, bahwa yang dimaksudkan oleh beliau ”lamyaj'al lil khalqi sabilan ila ma'rifatihi” (tidak pernah menciptakan jalan apapun bagi makhluk_Nya untuk makrifat kepada_Nya) bukan berarti sama sekali tidak ada seorang makhlukpun bisa mengenal_Nya.tujuan kalimat beliau itu harus dilihat adanya perkataan ”ila” (harful isttisna - huruf pengecualian). Seperti diuraikan pada uraian-urian yang terdahulu, tidak ada jalan apapun untuk mengenal_Nya kecuali dengan nur makrifat yang Allah karuniakan kepada hamba_Nya yang ia kehendaki, hamba yang mengakui kelemahan dan kefanaan dirinya.
اَلْمُجَاهَدَةُ فَطْمُ النَّفْسِ عَنِ المَألُوْفَاتِ وَحَمْلُهَاعَلٰى خِلَافِ ذَالِكَ هَوَاهَافِى عُمُوْمِ الأَوْقَاتِ .
(17). ”Mujahadah, adalah penekanan nafsu dari (hal-hal) yang menggiurkan, dan prakteknya melawan keinginan hawa nafsu di sembarang waktu”. (Risalah Al-Qusyairiyah).
مَنْ زَيَّنَ ظَاهِرَهُ بِالْمُجَاهَدَةِ حَسَّنَ اللّٰهُ سَرَاءِرَهُ بِالْمشَاهَدَةِ .
(18). ”Siapa yang menghiasi dirinya pada lahir dengan MUJAHADAH, Allah perindah pula s a r a i r nya (rahasia-rahasia yang amat halus pada bagian hati yang paling dalam) dengan MUSYAHADAH”. (Risalah Al-Qusyairiyah).
”Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim”. (HR. Ibn. Majah, Thabrani, Baihaqi).
