Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.


ILMU MAKRIFAT PERLU DIPELAJARI.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Ilmu hakikat dan ilmu makrifat, dikenal di masyarakat dengan nama ”ilmu dalam”. Menurut cerita orang tua-tua, di zaman penjajahan Belanda dahulu, sebelum datang bala tentara Jepang, menuntut ilmu ini amat sukar sekali. Kalaupun ada, terpaksa dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Lain halnya dengan pelajaran ilmu fiqih, ada sedikit kebebasan. Sehingga perkembangan ilmu ini seakan-akan stagnasi. Hal tersebut disebabkan adanya dua hal:

  1. Adanya larangan pemerintah Belanda tentang ”berapat dan berkumpul ”, meskipun ditujukan kepada kegiatan politik, tetapi tidak tertutup kemungkinan terlibatnya mereka yang menuntut ilmu dengan sistem ”kaji duduk”.

  2. Pendirian dari para ulama sendiri, dengan terlalu amat hati-hati untuk mengajarkan ilmu ini, kecuali untuk mereka yang sudah dianggap memenuhi syarat.

Satu hal yang jelas, bahwa penjajah Belanda amat tidak menyenangi orang-orang Islam Inlander yang mempelajari ilmu tasawuf (meskipun tidak ada larangan hukum secara tertulis) karena berdasarkan pengamatan dan penelitian mereka, kunci kekuatan Islam Inlander terletak pada keyakinannya pada ilmu tasawuf, sehingga penuntut ilmu tasawuf ”tidak ada rasa takut mati” untuk melakukan pemberontakan sewaktu-waktu terhadap pemerintah Belanda. Perlawanan Diponegoro, Perang Padri di Aceh, Perlawanan Pangeran Antasari di Kalimantan (kerajaan Banjar). Perlawanan Pangeran Hasanuddin di Sulawesi, pada dasarnya dilandasi oleh semangat Tasawuf. Hal ini disadari dan dimengerti oleh seorang tokoh Belanda prof. Snock Horgrunye, seorang ahli (pakar) dalam hal ke Islaman di tanah Hindia Belanda ini.

Tentang ke-hatian-hatian para Ulama untuk mengajarkan ilmu tasawuf/ilmu makrifat itu kepada para peminatnya. Berdasarkan tafsiran terhadap lafal hadits ”ala qadri 'uqulihim” (menurut kadar akalnya) dan harus kepada ”a h l i n y a”. Maka tafsiran tentang ”ahlinya” inilah, menimbulkan ketatnya penyebaran ilmu tersebut. Prinsip ”ahlinya” ini diartikan, harus memahami sifat dua puluh secara rinci, melaksanakan dan mempelajari syariat secara tekun serta mendalam. Mereka khawatir kalau-kalau terjadi sikap batin yang akhirnya tidak perduli kepada syara'. Ditambah lagi dengan sengaja dibesar-besarkannya ”kesalahan” ajaran Hamzah Fansyuri di Sumatera, Syekh Siti Jenar di Jawa, Syekh Abdul Hamid Habulung di Kalimantan dan lain-lain, dengan kasus yang hampir bersamaan dengan kasus Al Hallaj (Husein Ibnu Manshur).

Dilema yang timbul dengan upaya mendeskriditkan ajaran makrifat di satu pihak, dan umat yang sedang kehausan untuk mencari ajaran kepuasan batin pada pihak yang lain, maka tidaklah mengherankan bila di sana-sini timbul ajaran-ajaran kebatinan baru, baru ukuran zaman itu -secara sembunyi dan terang-terangan. Di Jawa tengah, tidak lama setelah penyerahan kedaulatan oleh pemerintah Belanda kepada Republik Indonesia Serikat yang kemudian disusul dengan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, lahirlah Islam Igama Hak (I.I.H) dengan Kantor Urusan Agama sendiri yang direstui oleh menteri kehakiman pada waktu itu. Mr. Jody Gondokusumo.

Kita berharap, dalam rangka pembangunan mental spiritual dewasa ini, perlu terwujudnya wawasan pengetahuan agama Islam yang lebih luas, disertai penelitian-penelitian sejarah, dimana ilmu makrifat telah memberikan andil besar memperkuat semangat perjuangan Bangsa.

Anjuran Syekh Muhammad Amin Al Kurdi rahmatullah 'alaihi (no.7) agar mempelajari sungguh-sungguh ajaran makrifat kepada Allah, sebagai acuan bagi umat, terutama untuk mereka yang mencari kepuasan batin.

Imam Ghazali r.a. sebelum merasakan nikmatnya ilmu ini meskipun sudah menjadi ulama ikutan pada zamannya sebagai pembesar Negeri, barulah beliau mendapatkan kepuasan batin setelah beliau menyediakan sebagian umurnya untuk ber'uzlah, sambil beliau menyusun beberapa kitab, a.l. sebuah Kitab yang terkenal Ihya 'Ulumuddin. Sebagian para 'Arif Billah mengatakan (termasuk Imam Ghazali):

”Siapa yang tidak kebagian ilmu ini (ilmu batin), saya khawatir atasnya akan menemukan ”su-ul khatimah”. Dan tidak ada jalan yang dapat mengenal_Nya, kecuali dengan perasaan murni” (Sirajut Tholibin).

Dengan kalimat ini, tidak berarti mereka memvonis pasti SU'UL KHOTIMAH (mati dalam keadaan jelek) tetapi mereka merasa perlu mengemukakan kekhawatiran mereka demi kepentingan umat.

”Yang dimaksud dengan MAKRIFAT adalah empat perkara; a) mengenal diri, b) mengenal Tuhan, c) & d) mengenal dunia dan akhirat. Yang dimaksud mengenal diri ialah dengan menegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah Mengenal Tuhan yang bersifat Kemuliaan, ke Agungan, dan Kuasa. Dan mengenal diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanya sebagai seorang musafir dari dunia menuju akhirat.” (Sirajut Tholibin).

”Hanya sanya, mereka yang telah mencapai tingkat makrifat adalah mereka yang (dalam batin) tidak menghiraukan sesuatu yang ada pada mereka, dan bertahan pada apa yang ada pada Allah Swt. (Al Junaid: Risalah Al Qusyairiyah).

Abu Yazid Busthomi ditanya orang tentang 'Arif, beliau menjawab: ”Tak terlihat dalam tidurnya selain Allah, dan tidak ada yang ia sukai kecuali Allah.” (Risalah Al Qusyairiyah).

🙏

Yang dimaksud mengenal diri ialah : dengan mengegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah dan mengenal Allah yang bersifat Kemuliaan, Ke-Agungan, dan kuasa. Dan Mengenal Diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanyai sebagai seorang musafir dari Dunia menuju akhirat. (Sirajut Tholibin).