Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
BERKARYA/USAHA IKHTIAR DAN SIFAT KEHAMBAAN.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul kasyaf di lingkungan Ahlus - Sunah Wal -Jama'ah, amat mengkhawatirkan adanya orang-orang yang baru selangkah memasuki arena tasawuf sudah berani mengukir kata dan ucap seperti perkataan Al Hallaj yang menghebohkan itu (Ana Al Haq). Kadang-kadang menjadikannya sebagai bahan percakapan di warung-warung kopi.

Bagaimanapun juga perbincangan demikian tidak dapat dibenarkan, ditinjau dari ajaran agama termasuk ajaran tasawuf itu sendiri.

Penegasan Syekh Abdul Karim Al Jilli pada jemputan kata no.3, mengisyaratkan untuk hal tersebut. Kalau diteliti uraian pada Kitab beliau ”Insan Kamil” ada kecenderungan kepada faham yang senada dengan Al Hallaj, tetapi ada penekanan agar tidak semudah itu meniru-niru perkataan Al Hallaj.

Sering terjadi, orang yang menuntut ilmu tasawuf yang sekaligus juga berusaha meninggalkan karya dan usaha. Padahal dirinya dan keluarganya sendiri amat menghajatkan tanggung jawabnya sebagai pimpinan rumah tangga. Hal itu terjadi karena timbulnya dua kemungkinan:

  • Karena menerima ajaran ”tajrid” (melepaskan diri dari hukum sebab dan akibat) lalu dirinya sendiri dipaksakan untuk menerapkan ajaran itu pada kehidupannya sehari-hari.

  • Karena hilangnya semangat berkarya atau berusaha akibat dari dirinya sendiri yang antara lain timbulnya frustasi atau depresi kejiwaan.

Orang yang akan melepaskan dirinya dari hukum sebab akibat (tadjrid) dengan cara yang dipaksakan, adalah suatu tindakan yang tercela, seperti yang dijelaskan oleh Syekh Ahmad Ibnu 'Athoillah:

اِرَادَتُكَ التَّجْدُ مَعَإِقَامَةِ اِللّٰهِ اِيَّكَ فِى الْاَسْبَبِ مِنَ الشَّــهْوَةِ الْخَفِيَّـةِ .

”Hasratmu untuk tadrij, padahal Allah masih menempatkanmu pada jalur sebab akibat, maka hasrat demikian, adalah berupa syahwat/nafsu yang tersembunyi.” (Al-Hikam).

”Tadrij” bisa saja terjadi terhadap makhluk Allah, misalnya terhadap seekor ulat di dalam batu tanpa kasab (usaha) dia masih bisa makan. Tetapi manusia bukanlah ulat. Kalaupun terjadi hal demikian misalnya terhadap orang yang sakit terbaring di rumah sakit, tanpa usaha dirinya sendiri, makanan untuknya masih bisa datang, namun semua itu tidak bisa dipaksakan.

Maka satu kekeliruan bila ada orang yang menuntut ilmu tasawuf, memaksakan dirinya untuk tadrij tanpa ada usaha untuk mencari makan bagi kepentingan dirinya dan keluarganya.

Seorang milyader triliuner, mungkin saja tanpa kasab (karya) dengan cara hidup santai dan mampu mewujudkan apa saja yang ia kehendaki, segala urusan rumah tangganya terjamin bahkan lebih dari cukup, sehingga mungkin kita bisa menggolongkannya sebagai seorang yang dalam kedudukan ”tadrij”. Tetapi, bisakah cara hidup demikian bisa ditiru oleh orang lain?.

Di sinilah kesan yang dapat kita tarik dari apa yang dikemukakan oleh Syekh Al-Junaid r.a. tersebut pada no.4. Ngeri juga rasanya bila kita simak kalimat beliau itu, orang yang tidak mau beramal/berkarya/usaha ikhtiar dengan unsur kesengajaan adalah lebih berat dosanya dari berzinah dan mencuri.

Timbul satu pertanyaan tentang ini; ”kenapa sebabnya ada ajaran TADRIJ, padahal manusia diperintahkan untuk beramal/usaha ikhtiar?”. Perlu dimengerti, bahwa ajaran TADRIJ tidak berarti secara total melepaskan segala macam kegiatan hidup. Tidak pula meninggalkan ”kasab”. Karena kasab itu sendiri adalah ciptaan Allah buat manusia hidup. Oleh sebab itu bukan kasab/amal/usaha ikhtiar pada hakikat. Bukan pula hukum sebab dan akibat, karena hukum itu sendiri ciptaan Allah untuk bisa dipahami oleh manusia. Senjata bukanlah mematikan, dia hanyalah alat dari suatu sebab, sehingga tidaklah seharusnya untuk ditakuti. Allah Maha Pencipta bisa saja membuat senjata itu tidak punya arti apa-apa.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa semakin tinggi tingkat makrifat seseorang, semakin tinggi pula tingkat ubudiyah dan ibadahnya. Meskipun dalam tingkat keilmuan, Ilmu Makrifat adalah termasuk dalam katagori ”ilmu tingkat tinggi”, namun tidaklah berarti meniadakan/menggugurkan syariat/hukum yang berlaku. Syariat, Thoriqat, Hakikat adalah bersatu dalam Makrifat. Apabila salah satunya digugurkan, maka bukanlah Makrifat yang benar

Para 'Arif billah di kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (Ahlul Kasyaf) semufakat dengan kalimat ini.

وَمَنْ تَفَقَّهَ بِلَا تَصَوُّفٍ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ بِلَا تَفَقُّهٍ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ تَجَعَّحَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَصَدَّقَ.

”Siapa yang hanya berpegang kepada fiqih (syariat) tanpa berpegang kepada ajaran tasawuf (hakikat) adalah fasiq. Siapa yang berpegang semata-mata ajaran tasawuf, (hakikat) tanpa fiqih (syariat) adalah zindiq. Tetapi siapa yang berpegang kepada keduanya, maka itulah yang benar.”

Satu ungkapan yang amat menarik, Sebuah tutur yang datang dari alam ketinggian, menyelinap kedasar hati yang paling dalam, dasar kalbunya Syekh Muhammad 'Abdul Jabbar An-Nafari q.s., lalu beliau rentangkan Tutur itu:

  • Tuhan berfirman kepadaku......... Aku telah menimbang amalnya orang yang beramal, namun semuanya tidak dapat menandingi makrifatnya Para 'Arif meskipun sedikit......

  • Amal sholeh yang dilakukan tanpa makrifat kepada Allah, akan berkesudah-an pada ke-sia-siaan, gugur tidak bernilai, laksana abu yang ditiup angin di Hari Angin Badai.

اَلْمَعْرِفَةُ تُوْجِبُ السَّكِيْنَةَ فِى الْبِ كَمَااَنَّ الْعِـلْمَ يُوْجُبُ السُّكُوْنَ فِى الْقْلِ فَمَنِ ازْدَادَتْ مَعْرِفَتُهُ إِزْدَادَتْ سَكِنَــتُهُ .

”Makrifat itu, memastikan datangnya tenteram pada hati, seperti juga ilmu membawa ketenteraman pada akal. Siapa yang bertambah nilai makrifatnya, bertambah pulalah rasa tenteram pada hatinya.” (Ucapan Ad-Daqqaq: Risalah Qusyairryah)

”Maka seyogyanya bagi orang yang berakal agar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menuntut ilmu makrifat dan tidak menunda-nunda dalam hal itu. Janganlah terjadi, bila maut datang menjelang, kebutaan karena kebodohan datang me-nimpa (akhirnya) tak ada lagi jalan untuk melihat cerah. Allah berfirman: DAN SIAPA YANG BUTA DALAM DUNIANYA SEKARANG INI, MAKA DI AKHIRAT KELAK MALAH LEBIH BUTA LAGI DAN SESAT JALAN. (Tanwirul Qulub).

🙏

"Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 10)