Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
MENYAUK MAKNA MAKRIFAT DENGAN ALLAH.




”Dengan menyebut nama Allah yang Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Hampir semua Ulama Sufi dan para 'Arif Billah sepakat bahwa pada hakikatnya tiada seorang pun yang bisa mengenal Allah, kecuali dengan Allah jua. Sementara ulama Ahluz-Zhohir tidak sependapat dengan rumusan tersebut.

Sedikitnya ada tiga alasan kuat dari kalangan Sufi atas rumusan tersebut:

1. Pada awal kehadiran manusia di muka bumi - Nabi Adam a.s. - membawa pengetahuan tentang Allah Swt. dan tentang segala sesuatu, adalah karena diajarkan oleh Allah sendiri kepada beliau, yang sebelumnya beliau tidak mengerti apa-apa. Allah berfirman:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْأَسْمَـاءَ كُلَّهَـا .

”(Allah) ajarkan kepada Adam nama-nama semuanya ”. (S. Al Baqarah).

2. Lahirnya seorang anak manusia dari perut ibunya, sama sekali tidak punya pengetahuan apa-apa, seperti apa yang difirmankan oleh Allah Swt. :

وَاللّٰهُ أَخْرَجَكُوْ مِنْ بُطُوْنِ اُمَّهَاتِكُمْ لَاتَعْلَمُوْنَ شَــيْــًٔا .

”Allah yang mengeluarkan kamu dari perut ibumu, dan kamu tidak mengerti apa-apa.” (S. An-Nahl : 78)

Tentang adanya dan tersedianya apa yang dinamakan watak, bakat, intelegensia, naluri, dan lain lain-lain, adalah ”khalqiyah” (ciptaan) yang bukan bikinan manusia itu sendiri.

3. Faktor keterbatasan manusia adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapa-pun. Apa mungkin manusia dalam keterbatasannya mampu mengenal Allah kalau bukan pemberitahuan Allah sendiri melalui Para Rasul dan Kitab-kitabnya? (Baca : pada hakikatnya).

Banyak hadits Rasulullah tentang ketidak tahuan manusia a.l., sebuah hadits Qudsi:

”Semua kamu adalah sesat, kecuali orang yang kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada_Ku, Aku akan memberi petunjuk padamu. Hai hamba_Ku, semua kamu lapar dahaga, kecuali orang yang Kuberi makan, maka mintalah makan kepada_Ku, Aku akan memberi makan kepadamu. Hai hamba_Ku, semua kamu dalam keadaan telanjang bulat, kecuali orang yang Kupakaiani, maka mintalah pakaian kepada_Ku, Aku akan memberikan pakaian itu kepadamu. Hai hamba_Ku, kamu semua banyak berbuat salah sepanjang hari dan malam, Akulah yang memberi ampunan atas dosa-dosa itu semua, -kecuali syirik-mintalah ampun kepada_Ku, Aku akan ampuni kamu." (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu 'Uwanah, Ibnu Hibban dan Hakim; dari Abu Dzarrin r.a.)

Pengetahuan yang dimiliki manusia, timbul dan berkembang disebabkan adanya keterpaduan antara faktor internal (unsur-unsur khalqiyah) dengan faktor external (alam dan hubungan manusia dengan lingkungan).

Dengan jelas Allah berfirman :

وَمَا أُوْتِــيْتُمْ مَنَ العِــلْمِ اِلاَّقلِيْلًا

”Dan tidaklah ilmu yang didatangkan kepadamu, kecuali sedikit sekali.”

عَلَّمَ الِْإنْسَـانَ مَـالَمْ يَعْلَمْ (العلق: ٥)

"Allah yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak ia ketahui.” (Al 'Alaq: 5)

Maka jelaslah bahwa pada ”hakekatnya” untuk makrifat kepada Allah adalah karena Allah jua. Yakni dengan petunjuknya, dengan hidayah_Nya dan dengan kehendak_Nya. Tanpa Dia, tidak mungkin seseorang akan dapat mengenal_Nya."

Rasulullah Saw. berkata kepada Ibnu Mas'ud r.a. :

”Hai Ibnu Mas'ud, tahukan anda tafsirnya (kalimat LA HAWLA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHI? saya Ibnu Mas'ud) menjawab ”tidak”. Selanjutnya Rasulullah berkata: ”Tidak ada daya (menolak) maksiat, dan tidak ada kekuatan untuk taat kepada Allah melainkan dengan pertolongan_Nya jua. Kemudian dipukulnya pahaku dengan tangannya seraya berkata: ”Demikianlah tafsirnya yang diberitahukan Jibril kepadaku.” (Sirajut-Tholibin).

Andai kata, maksud rumus itu dibalik: ”Seseorang dapat mengenal Allah dengan kemampuan dirinya sendiri (dalam arti hakiki”). Bukankah kalimat demikian terasa ganjil?.

Dalam Al Qur'an banyak sekali keterangan yang menjelaskan:

  • bisa makan, Allah yang memberi makan.

  • bisa minum, Allah yang memberi minum.

  • sembuh dari sakit, Allah yang menyembuhkan.

  • dapat rezeki, Allah yang memberi rezeki, dan banyak lagi.

Malah dalam suatu hadits Rasulullah, bila selesai membuang hajat besar/kecil, hendaklah meng-ucapkan ”hamdalah”.

اَلْهَمْدُلِلّٰهِ الَّذِى أَذْهَبَ عَنِى الْاٰذَى وَعَافَانِى .

”Segala puja-puji hanya untuk Allah yang membersihkan kotoran dariku, dan memberi keafiatan untukku.” (hadits Shohih).

Memang pada kenyataan lahir, si orang yang membuang hajat itu sendirilah yang membersihkan kotorannya sendiri. Dia ambil air sendiri, dia mengejan sendiri dan dia gosok sendiri.

Konon lagi soal makrifat.

Kepada mereka yang tidak mau meyakini bahwa ”makrifat kepada Allah dengan Allah” dengan kata lain bahwa makrifatnya adalah kemampuannya sendiri, kepintarannya sendiri, tidak dia rasakan bahwa hal itu adalah karena karunia Allah Swt. terhadap dirinya, maka 'Arif Billah menghukumkan - bila dirinya berubah keyakinannya begitu - dirinya adalah syirik khof. Demikian pula bila mengakui dalam dirinya secara mutlak dan dalam arti hakiki bahwa dia bisa makan, minum, mendapat rezeki, adalah karena dan dengan kemampuan dirinya sendiri, atau dia sembuh sakit karena obat atau dokter, maka keyakinan demikian adalah keyakinan yang bersifat syirik.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman:

مَنْ قَالَـــ مُطِـــرً نَابٍـنوْءٍ كَفَرَ بِيْ وَاٰمَنَ بِيِ وَكَفَرَ بِذَالِكَ النَّجْمِ مَنْ قَالَـــ اَسْــقَيْنَااللّٰهُ قَدْ اٰمَنَ بِيْ وَكَفَرَ بِذَالِكَ الـنَّجْمِ.

”Sesungguhnya orang yang berkata: ”hujan ini turun karena bintang-bintang ini atau itu, maka berarti ia telah kufur kepada_Ku, dan beriman kepada bintang-bintang tersebut. Dan sesungguhnya orang yang berkata; ”Allah jua yang menurunkan hujan ini” maka dia itulah yang benar dan beriman kepada_Ku, dan kafir kepada bintang.” (R. Thabrani dari Ibnu Mas'ud r.a.)

اِنَّ الْعبْدَ عَبْدٌ وَاِنَّ الرََّبَّ رَبٌ لاَيَصِيْرُالْعَبْدُ رَبَّ وَلاَ الرَّبَّ عَبْدًا .

”Sesungguhnya, hamba adalah hamba, Tuhan adalah Tuhan, tidaklah bisa hamba menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi hamba.” (Syekh Abdul Karim Al-Jili : Insan Kamil).

”Seorang laki-laki bertanya Syekh Al Junaid: ”Ada sebagian ahli makrifat berkata - ” bahwa meninggalkan gerak (usaha ikhtiar), adalah sebagian dari pintu kemuliaan/kebajikan dan takwa ”. Lalu Syekh Junaid berkata: ” Seandainya golongan itu berkata dengan maksud menggugurkan amal (usaha) bagiku hal itu adalah suatu persoalan besar. Dibandingkan dengan dosa orang yang mencuri dan berzinah, jauh lebih baik dibandingkan dengan ucapan. ” (Sirajut-Tholibin).

قَالَ اَهْلُ اْلمُحَقِّقِيْنَ: اَامَعْرِفَةُ مَ الْقَلْبِ بِوُجُوْدِ الْوَاجِبِ الْمَوْجُوْدِ مُتَّصِفًا بِسَإَِرِ اْلكَـمَـالَاتِ .

Ahli Hakikat berkata: ”Makrifat adalah kemantapan hati untuk meyakini adanya Dzat wajibul wujud yang bersifat dengan serba kesempurnaan." (Risalah Qusyairiyah).

🙏

"Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 6)