DZAUQUN SHOHIH/PERASAAN MURNI.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Para psikolog sesuai dengan profesinya mengerti benar tentang apa yang mereka namakan ”intuisi”, yang untuk ini penulis terjemahkan saja dengan ”perasaan murni” yang dalam bahasa Arab disebut dzauqun shohih. Rasa seni dan rasa cinta sebagai suatu fenomena kejiwaan, bersumber dari perasaan murni. Kehalusan perasaan para Arif Billah yang memiliki rasa seni dan cinta kepada Allah Maha Pencipta, mereka tuangkan dalam bentuk prosa dan puisi yang sangat indah dan mempesona. Penuangan rasa murninya dalam bait-bait sajak dan syair kadang kala jauh bergeser dari ukuran norma dan kaidah, namun mereka menemukan kepuasan dan keindahan yang sulit untuk dapat dirasakan oleh orang lain.
Seperti penyair Chairil Anwar dengan AKU nya: ”Aku binatang jalang, kumpulan terbuang, ingin hidup seribu tahun lagi”. Orang lain boleh saja tidak sependapat dengan puisinya, namun begitulah mereka.
Dapatlah kita merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Abu Yazid Busthomi r.a. dengan sekelumit ucapannya itu? Beliau sebagai tokoh sufi pada zamannya, ulama, ahlul-ibadah berkepribadian terpuji, rendah hati dan amat sederhana cara hidupnya, pencinta sesama, sampai hatikah kita memvonis beliau dengan putusan yang mengerikan ”sesat dan menyesatkan”, hanya karena luapan perasaannya sendiri dan untuk dirinya sendiri? Untung-untung andaikata tuduhan itu dibenarkan oleh Allah dan Rasul di akhirat kelak, si penuduh tidak menerima resiko apa-apa tetapi juga tidak mendapat hasil apa-apa dengan benarnya tuduhan itu. Tetapi andai kata pada sisi Yang Maha Adil Allah Swt. beserta Rasul_Nya tuduhan itu tidak dibenarkan, maka suatu bencana besar pasti akan diterima oleh si penuduh.
Dunia mereka para 'Arif adalah dunia kebatinan 'asyik wal ma'syuk, mereka tenggelam dalam dunianya yang mereka rasa lebih nikmat dan suci dibanding dengan dunia materi yang sedang dihadapi. Demikian pula ungkapan oleh Syekh Junaid yang sama sekali tidak menghiraukan apapun jua kecuali yang mereka cintai. Kalau dunia materi itu ada pada mereka, sama sekali tidak tersangkut di dalam hatinya meskipun hanya selembar sapu tangan. Hati hanyalah tempatnya ”dzikirullah”. Akal dan nafsu silahkan melaksanakan tugasnya tetapi jangan menyeret hati yang berperasaan murni ke dalam kancah dunia materi yang menggiurkan. Ada ungkapan yang berbunyi:
”Rumah bagus dan cantik, letaknya di tanah. Jangan letakkan di dalam hati. Kalau rumah terbakar habis, tanah akan kembali semula. Bila rumah diletakkan di hati, perih dan menyakitkan. Hati terbakar dan panas, air mata belum tentu mampu memadamkan dan mendinginkannya. Harta, emas dan perak, simpanlah dalam peti besi yang kukuh, jangan disimpan di dalam hati. Bila pencuri datang berkunjung, yang hilang hanya peti dan isinya. Kalau disimpan di dalam hati, hati terbawa entah kemana. Tercabut terbongkar dari tempatnya, sakitnya tidak terkira-kira. Hudlurlah hati beserta Allah, tak akan sirna, kekal dan indah.”
Mereka (Para 'Arif) berpegang teguh pada ayat Al Qur'an :
مَـاعِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَـا عِنْدَاللّٰهِ بَاقٍّ وَلَنَجْزِيَنَ الَّذِيْنَ صَبَرُوْآ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَـاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ.
”Apa-apa yang ada pada kamu akan lenyap dan apa-apa yang di sisi Allah adalah kekal. Dan sungguh Kami memberi balasan terhadap orang-orang yang sabar akan pahala yang lebih daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 96).
Harapan mereka adalah agar mendapatkan pengakuan Allah sebagai MUKMIN 'INDALLAH ( Mukmin di sisi Allah) suatu keadaan yang paling membahagiakan buat mereka.
”Syekh Al - Junaid ditanya orang tentang 'Arif, maka beliau menjawab : ”Warna air adalah warna gelasnya”.(Risalah Al Qusy.)
”Ruwaim berkata : ”MAKRIFAT bagi seorang ’Arif adalah cermin, bila dia memandang dalam Makrifat/cermin itu, tampak nyatalah/tajallilah Tuhan untuknya.” (Sirajut - Tholibin).
”Manusia yang paling tinggi makrifatnya kepada Allah, ialah mereka yang sangat ”tahayur”. (Tanwirul Qulub).
Yang dimaksud mengenal diri ialah : dengan menegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah dan mengenal Allah yang bersifat Kemuliaan, Ke-Agungan, dan Kuasa. Dan mengenal diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanya sebagai seorang musafir dari dunia menuju akhirat. (Sirajut Tholibin).
