Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
KAIFIYAT (TATA CARA) LATIHAN MUSYAHADAH. (1)




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.



Secara umum, riyadloh atau latihan yang dikemukakan disini hanya sekedar menunjukkan latihan sepintas lalu/tidak rinci. Kepada peminat dianjurkan agar secara khusus mempelajarinya kepada seorang guru yang punya identitas sebagai seorang MURSYID (penuntun di bidang kebatinan) yang sebelumnya perlu diamati bahwa Mursyid itu benar-benar menguasai bidang, dasar ajarannya, -mu'tabar atau -. Yang dicontoh ini berkenaan dengan syuhud (pandangan batin) terhadap WIHDATUL AP'AL/Tauhidul Ap'al sebagai berikut:

Memandang/syuhud terhadap diri sendiri.

Kita sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa diri ini dengan seluruh kelengkapannya adalah ciptaan Allah. Dia yang menghidupkan. Dia yang pada hakikatnya memberi makan, minum, memberi rezeki dan sebagainya. Semua itu adalah ap'al Allah SWT.

Bagaimana tentang sikap hidup, perbuatan kita apakah dari kita sendiri? Dalam arti lahir dan kenyataan pandangan mata adalah dari kita sendiri. Tetapi apakah pandangan lahir itu dapat memastikan dalam arti hakiki (yang sebenarnya) bahwa itu mutlak begitu? Bukankah Allah SWT. secara tegas menjelaskan:

وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ مَـاتَعْمَلُوْنَ.

"Allah yang menciptakan kamu, dan menciptakan apa yang kamu lakukan". (QS. As-Shoffat : 96).

Pada waktu perang Khandaq (perang parit) pihak Abu Jahal dan kawan-kawannya menyerang kota Madinah yang dikuasai oleh Kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah Saw. Serangan itu dilakukan oleh suatu pasukan yang cukup besar didukung oleh pasukan berkuda. Sedang penduduk Islam yang ada di Madinah termasuk para wanitanya hanya berjumlah kurang lebih 3.000 orang. Kekuatan jelas tidak seimbang. Pembuatan parit yang sebelumnya adalah prakarsa dari Salman Al-Farisi cukup besar manfaatnya. Namun demikian dalam peperangan itu pasukan Muslim sudah hampir kewalahan. Dalam keadaan kritis, datang wahyu Allah agar Rasulullah melemparkan segenggam pasir kepada musuh-musuhnya. Ternyata setiap biji pasir yang dilemparkan itu mengenai mata setiap orang dari pasukan musuh dan juga mata-mata kuda-kuda yang mereka tunggangi. Dengan demikian pihak penyerang (Abu Jahal dkk) terpaksa lari terbirit-birit meninggalkan arena/medan perang kembali ke Mekkah. Atas hasil kemenangan itu, mungkin dengan maksud agar pasukan Rasulullah jangan sampai merasa takabur atas hasil yang mereka capai, Allah berfirman:

وَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ قَتَلُهُمْ وَمَـا رَهَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ

”Bukan kamu (pasukan muslim) yang berperang dengan mereka (musuh), tetapi Allah-lah yang memerangi mereka. Bukan engkau (Hai Muhammad) yang melempar, tetapi Allah yang melempar. Allah uji orang mukmin dengan ujian yang baik, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ”. (QS. Al-Anfal: 17).

Yang nyata dan jelas pada peperangan itu adalah kaum mukminin/muslimin yang berperang dan Rasulullah yang ”melempar”. tetapi kenapa Allah SWT. mengatakan bahwa yang berperang dan yang melempar itu Allah SWT?

Dengan dasar dalil tersebut maka para arif meyakini benar bahwa ”apapun yang dilakukan oleh hamba, pada hakikatnya adalah perbuatan Allah yang disandarkan kepada hamba”. Hamba hanyalah ”mazhhar” (objek perbuatan Nya) yang pada hakikatnya mazhhar itu hanyalah ”majaz” (bayangan) semata-mata.

Dengan uraian tersebut hendaklah dimusyahadahkan, apa saja yang dilakukan oleh diri sendiri, orang lain, seluruh peristiwa dan keadaan adalah AP'AL ALLAH PADA HAKIKATNYA.

Kita pandang dan renungkan diri ini, banyak pekerjaan yang dilakukan oleh diri di hari ini. Apa saja yang telah dibuatnya semenit yang lalu. Berapa jumlah getaran dan gerak mata selama waktu semenit itu? Bunyi apa saja yang terdengar, perasaan dan pikiran apa saja yang terlintas? Ternyata …tidak mampu memberi jawaban rinci dan mendetail …. Setelah direnungkan lagi, ada bagian-bagian pada diri, denyutan jantung, peredaran darah di dalam tubuh, datangnya penyakit, ternyata tidak mampu dikuasai oleh diri. Siapa yang menggerakkannya dan melakukan itu semua? … diam. Tak ada jawab.

Mungkin itu karena, adanya daya hidup sebagai penggerak. Daya hidup itu disebut r u h. Pertanyaan berikutnya; ”r u h atau daya hidup yang tidak berwujud dan tak tampak oleh mata, bagaimana mungkin dapat bersenyawa dengan tubuh kasar ini? …diam. Apa dan kenapa bisa timbul apa yang dinamakan kehendak? Hati berkehendak menggerakkan tangan dan kaki, lalu tangan dan kaki bergerak sesuai dengan kehendak hati, kenapa hubungan itu bisa terjadi? Kata orang, si hati berhubungan dengan syaraf otak lalu syaraf otak mengirim sain (sign) itu kepada syaraf tangan dan kaki sehingga terjadilah gerakan. Bagaimana bisa terjadi hubungan dan keterpaduan antara hati, otak dan anggota dengan kecepatan tinggi??? Apa mungkin ada unsur lain yang lebih dominan (menguasai) terhadap diri? Seperti sebuah mobil misalnya, meskipun, mobil itu masih gress, bahan bakarnya cukup, tetapi nyatanya yang lebih dominan adalah sopir dengan menggerakkan kunci kontak dan menginjak starter. Bukankah sopir itu bukan mobil atau dengan kata lain. Pak sopir adalah unsur lain dari mobil? …. Tambah tinggi bobot pertanyaan, tambah hening, diam tiada jawab.

Di sinilah si diri mengakui kelemahannya, kekurangannya, kebodohannya, ketidak mampunya secara keseluruhan. Dia f a n a. Sama sekali tiada arti dibanding dengan Allah SWT. yang lebih berkuasa dan menguasai dirinya.

Akhirnya si diri dengan suara sendu melampiaskan suara hatinya: ”Nyata sekali, bahwa diriku ini pada hakikatnya hanyalah laksana wayang di tangan seorang dalang”.

🙏

Sholat itu tiang agama barang siapa yang mendirikannya maka ia adalah mendirikan agama, barang siapa yang meninggalkannya maka ia meruntuhkannya. [Hadits]


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.
LATIHAN-LATIHAN (RIYADLOH) BERMUSYAHADAH.






Meskipun MUSYAHADAH pada dasarnya bukan upaya hamba, tetapi benar-benar tergantung sepenuhnya atas ”masyatullah” (kehendak Allah), namun para 'Arif Billah yang sudah punya pengalaman dalam hal ini memberikan beberapa petunjuk untuk memudahkan seseorang mendapatkannya. Adapun latihan-latihan ini tidak berarti memastikan keberhasilannya tetapi disisi lain tetap mendapat nilai tinggi dan termasuk dalam kategori ”musyahadah bil'ilmi”.

Dalam ilmu Makrifat terdapat dua metode latihan bermusyahadah:

  1. Musyahadah lidz-Dzat (Musyahadah Zat).
  2. Musyahadatun Nur ( Musyahadah Nur).

Kedua metode ini pada dasarnya adalah satu kesatuan, sama sekali tidak ada tingkat dan tidak pula terpisah.

A. Musyahadah Zat (Dzat)

Yang dimaksudkan Musyahadah Zat bukan dalam arti "penyaksian keadaan wujud Zat" (Kunhi Zat). Karena suatu hal yang mustahil untuk bisa menyaksikan Kunhi Zat Allah Swt. Allah adalah "Laista kamisthili syai'un" (tidak ada seumpamanya). Dia bukan j+1 Jirim, bukan 'aradl dan bukan pula jisim. Prinsip Laisa ini harus menjadi dasar pegangan jangan sampai bergeser sedikitpun. Sebelum melakukan latihan (riyadloh) ada 4 (empat) hal yang harus sudah di mengerti dan dipahami dengan penuh yakin:

  1. Tauhidul Ap'al (Ke-Esaan-an Perbuatan).

  2. Tauhidul Asma (Ke-Esaan-an nama).

  3. Tauhidus Shifat (Ke-Esaan-an Sifat).

  4. Tauhiduz-Dzat (Ke-Esaan-an zat).

  5. Ke-empat-empatnya termasuk dalam ruang lingkup ”Musyahadah lidz-Dzat”. (baca: Permata Yang Indah - Ad. Durrunnafis).

B. Musyahadah- Nur.

Dalam rangka melatih Musyahadah Nur perlu lebih dahulu memahami suatu ajaran yang disebut MARTABAT TUJUH atau biasa disebut juga MARTABAT TANAZZUL. Meskipun ajaran tersebut oleh sementara orang dikatakan berbau filsafat namun pada isi ajarannya tetap berlandaskan Al Qur'an dan hadits Rasulullah Saw. serta pendapat-pendapat yang rosikh (punya alasan yang kuat) dari keterangan para Arif Bilah.

Dalam ajaran ini difokuskan kepada ajaran tentang NUR MUHAMMAD yang menurut Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjarie cara ini adalah salah satu cara yang dapat mempercepat seseorang sampai kepada tujuan. Tentang Nur Muhammad adalah salah satu masalah khilafiyah (perbedaan pendapat). Oleh sebab itu tergantung seseorang menurut sepanjang apa yang dikaji dan dipegangnya. Hanya satu catatan, siapa yang telah mengambil ijazah dari seorang guru tentang Martabat Tujuh maka mau tidak mau dia wajib memegang keyakinan itu.

Allah SWT berfirman:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ ۗ هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ هُوَ سَمّٰٮكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ ۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ .

"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." (QS. Al-Hajj 22: Ayat 78)

🙏

"Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. At-Talaq 65: Ayat 12)


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.
ALLAH MAHA NYATA DARI SEGALA YANG NYATA.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.



Di dalam ajaran Musyahadah (penyaksian) terhadap Allah Swt. terdapat suatu prinsip yang paling mendasar, yakni; "keyakinan yang tertanam pada batin bahwa Allah Maha Nyata dibanding dari segala yang nyata dan Allah Maha Dekat dari segala yang dekat." Tanpa keyakinan demikian janganlah diharapkan akan mendapatkan nikmat rasa Musyahadah yang sebenarnya.

Allah SWT. berfirman:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ.

"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ .

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf 50: Ayat 16)

Ajaran agama secara keseluruhan diawali dengan yakin dan percaya. Berbeda dengan ilmu pengetahuan eksak yang pada umumnya harus lebih dahulu mampu memberi jawaban beberapa macam dan bentuk pertanyaan-pertanyaan, barulah kemudian bisa ditemukan keyakinan. Seorang yang belajar bela diri misalnya, pada waktu ia akan mengadakan uji coba dengan memotong sebuah balok es atau beberapa potong bata, tentu diawali dengan auto sugesti (sugesti pribadi) yang tentu saja dengan beberapa latihan-latihan yang dilakukan sebelumnya bahwa dia harus merasa yakin akan mampu memotong balokan es atau bata-bata itu dengan tangannya. Bila dia merasa ragu antara dapat atau tidak, maka betapapun juga usahanya tidak akan berhasil.

Yakin, yang berasal dari bahasa Arab "yaqiinun". Sementara para ahli mendefinisikan sebagai berikut: ”Yakin adalah kecenderungan batin manusia untuk memastikan benar atau tidak benarnya sesuatu dengan melalui sebab atau tidak melalui sebab”.

Karena ”Yakin” termasuk suatu kecenderungan batin, sedang batin itu sendiri bukan urusan langsung manusia, tetapi diurus oleh Allah Swt., maka seyogyanya manusia memohon kepada_Nya agar memberikan dan memantapkan keyakinan itu pada batin. Tanpa karunia dan limpahan Allah Swt., tidak akan seseorang bisa menemukan apa yang dinamakan yakin.

Ulama sufi berpendapat:

اَلْيَقِيْنُ هُوَاعِلْمُ الْمُسْتَوْدَعُ فِى الْقُلُوْبِ يُشِيْرُ هٰذَا الْقَلِلُ اِلٰى اَنَّهُ غَيْرُ مُكْتَسَبٍ.

"Yakin, adalah ilmu yang diletakkan pada hati, hal ini menunjukkan bahwa ilmu yakin itu tidak termasuk ilmu yang bisa diusahakan". (Risalah Al Qusyairy).

Ilmu-yaqin, 'ainul-yaqin, haqqul-yaqin dan tentang hijab (dinding) mata hati.

Keyakinan seseorang antara satu dengan yang lain meskipun menghadapi persoalan yang sama, tidaklah sama kadarnya. Mungkin belum ada alat yang dapat mengukur kadar dan tingkat keyakinan seseorang

Namun demikian terdapat beberapa rumusan yang ada hubungannya dengan masalah yakin:

a. Ilmul-Yakin ialah keyakinan yang timbul setelah adanya beberapa keterangan dan dalil. Sehubungan dengan musyahadah dirumuskan sebagai berikut:

عِلْمُ الْيَقِيْنِ اَلَّذِى هُوَمَعْرِفَتُهُ تَعَلٰى بِالْبَرَا هِيْنَ .

"Ilmul Yakin, ialah makrifat kepada Allah Ta'ala dengan beberapa keterangan". (Siraj. Tholibin).

b. 'Ainul Yakin, ialah keyakinan berdasarkan kenyataan. Tidak ada alasan apapun yang mampu menolaknya, bila kenyataan itu ada.

وَمُشَاهَدَتُهُ تَعَلٰى قَبْلَ كُلِّ شَوْءِ وَهُوَالْمُسَمَّى عِنْدَهُمْ بِاالْمُعَايَنَةِ.

"Musyahadah terhadap Allah Ta'ala sebelum menyaksikan segala sesuatu yang menurut Para 'Arif disebut 'Mu'ayanah (kenyataan/pembuktian). Hal ini adalah 'ainul-yakin".

c. Haqqul-yakin, ialah keyakinan yang sebenarnya. Musyahadah terhadap Allah Swt. secara nyata dan meyakinkan, tanpa dalil dan pembuktian.

حَقٌالْيَقِيْنِ هُوَ مُشَاهَدَتُهُ تَعَالَى فِى كُلِّ شَىءٍ بِالاَحُلُوْلٍــ وَاتِحَادٍ وَانْفِصَالـــٍ وَلَااءِتصَالـــٍ .

"Haqqul-yakin, ialah musyahadah terhadap Allah Swt. dalam segala sesuatu, tanpa hulul (bersatu) tanpa Ittihad (terpadu) tanpa ittishol (bersambung) dan tanpa infishol (berhubung-berhubungan)".

Kalimat-kalimat yang dikutip dari kitab Al Hikam (Ahmad Ibnu ''Athoillah) pada no. 5 sampai dengan no. 10. di atas, adalah rumusan dalam arti 'ilmu yakin. Yang dengan keterangan-keterangan tersebut, menunjukkan bahwa tidak ada satupun yang bisa mendindingi Allah. ke-Maha Nyata an Allah, Ke- Maha dekatan Allah dan Maha Besarnya Allah, sudah harus diyakini kepastian dan kebenarannya. Jadi jelaslah bahwa yang terdinding/terhijab itu adalah manusia sendiri. Hijab atau dinding yang menutupi pandangan batin manusia antara lain adalah:

  1. Keingkaran.
  2. Kebodohan/ketidak adanya pengertian.
  3. Prasangka buruk.
  4. Terlalu sibuk dengan urusan duniawi, mengabaikan urusan ukhrawi.

Keingkaran adalah sinonim dengan kekufuran. Sekaligus juga sumber dari segala kemaksiatan lahir dan batin. Orang yang ingkar terhadap existensi dirinya sendiri yang memiliki naluri berkepercayaan/beragama yang oleh kalangan ahli jiwa disebut "naturaliter religeusa" (Prof.C.G. Yung ). Keingkaranlah yang membuat orang bersikap tidak perduli halal dan haram, semua cara bisa ditempuh asal tujuan tercapai. Mungkin saja terjadi, seseorang yang ingkar kepada Allah Maha Pencipta, tetapi di satu pihak masih menghormati dan menjaga dengan etika pergaulan dalam masyarakat, berbuat baik kepada sesama, jujur, serta sopan, namun sikap demikian tidak tentu permanen. Di tengah-tengah masyarakat yang relatif masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etik, seseorang yang ingkar kepada Tuhan akan mampu berintegrasi pada keadaan. Sebaliknya bila berada dalam lingkungan masyarakat yang "berprinsip bebas tanpa kendali" satu lingkungan masyarakat yang tidak mengenal makna dan arti moral dan etik sepanjang ukuran Agama, orang itu akan cenderung kepada pola hidup "barbarisme" dengan dalih bahwa kebebasan adalah moral yang paling hakiki.

Tepat apa yang dikemukakan oleh sementara Arif Billah:

اَلْحَقِيْقَةُ الرَّبَّانِيَّةُ اَلتَّى تُمَيِّزُبَيْنَ الإِنْسِ وَالْحَيَوَانِ.

"Hakikat Ketuhanan (yang ada pada diri manusia) yang membedakan antara manusia dengan binatang".

Kebodohan/ketidak adanya pengertian seseorang terhadap Tuhan, maka orang demikian akan mudah terombang-ambing dan tanpa punya pendirian dalam beragama.

Kebodohan yang dimaksudkan ini bukan berarti karena rendahnya tingkat intelegensia (kecerdasan), karena banyak kenyataan bahwa seseorang yang tingkat kecerdasan berada di bawah standar, namun ketekunannya melakukan ibadah cukup meyakinkan.

Dengan kebodohan dan ketidak tahuan/pengertian kepada agama itu, bisa saja terjadi sikap dan perilakunya malah bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya. Orang yang demikian berpendirian bahwa soal meyakini dan percaya kepada Tuhan adalah hal yang simple. Dianggapnya tidak begitu penting. Asal tahu Tuhan ada dan Tuhan Esa, katanya itu sudah cukup. Kenapa harus bertele-tele …… Orang yang demikian, mungkin saja dia sukses dalam kehidupan dunia dan materi atau tergolong ……yang terhormat ……maka untuk mereka Allah berfirman:

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَاۤ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَا ۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰـكِنْ تَعْمَى الْـقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ .

"Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj 22: Ayat 46)

وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖۤ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا . "Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 72)

Tidak adanya pengertian dan ketidak tahuan terhadap Tuhan diistilahkan oleh Allah Swt. dengan kebutaan.

Demikian pula dengan adanya prasangka buruk terhadap ajaran tasawuf Ketuhanan dan berprasangka buruk terhadap diri sendiri dengan dalih "ini ilmunya orang wali, bukan ilmunya orang awam seperti kita", maka hal ini juga merupakan hijab/dinding yang menutupi seseorang untuk bisa merasakan kenikmatan makrifat dan musyahadah, ilmu wali adalah juga ilmunya Rasulullah Saw. karena dari beliaulah para wali Allah dapat menyauk ilmu dan 'Irfan dan dari Rasulullah Saw. juga para wali mengambil tauladan.

Selanjutnya, bila hati dipenuhi dengan urusan duniawi, kadang-kadang tidur tak nyenyak, problema yang satu hilang datang problema yang lain, rasa ingin beribadah tambah hari tambah turun, keinginan untuk mempelajari ilmu agama khususnya ilmu Ketuhanan, pada waktu keadaan ekonomi hidup pas-pasan menggebu-gebu tetapi setelah rejeki naik daun, timbul rasa malas. Yang paling tragis lagi bila tumbuh tanggapan di dalam hatinya " membuang-buang waktu saja ".

Menurut Syekh Muhamad Nafis bin Idris Al Banjari, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang gugur sebelum sampai ke tujuan, yang selanjutnya tidak akan mungkin orang itu dapat merasakan kenikmatan makrifat dan musyahadah:

  1. Kasl (malas).
  2. Fitur (bimbang/lemah pendirian.
  3. Malal (pembosan).

Selain itu, ada pula faktor-faktor yang "menggagalkan" meskipun ke-empat faktor yang menggugurkan dapat diatasi. Yaitu "syirik-khofi" Yang dimaksud syirik khofi itu ialah:

  1. Ria (pamer).
  2. 'Ujub (merasa gagah/hebat sendiri).
  3. Sum'ah (membangga-banggakan diri untuk mendapatkan pujian orang lain).
  4. Hijb/Hajb (tertutup hatinya karena merasa ilmu dan amalnya sudah dianggap lebih dari cukup).

Ke empat faktor tersebut, adalah termasuk penyakit batin kelas berat. Setiap apa yang dinamakan "penyakit batin" adalah merupakan borok/koreng pada ujud ruh. Bilamana sebelum akhir hayat penyakit tersebut tidak pula sembuh, maka ruh itu akan berteriak kesakitan pada saat keluarnya dari tubuh atau sesudah. Rasulullah menegaskan bahwa ruh yang semacam itu dinamakan "Ruhul-khobista" (ruh yang paling jelek). Digambarkan oleh Rasulullah, Malaikat maut ketika mencabut nyawa manusia yang penuh penyakit (baca: penyakit batin) itu sambil menutup penciumannya karena bau busuk yang tidak terkira. Na'udzubilah min dzalik.

Bagaimanakah upaya untuk menghilangkan hijab dan penyakit-penyakit itu? Jawabannya tergantung dengan ketekunan dan kesungguhan untuk mengantisipasi semua macam penyakit batin seperti yang tersebut itu. Hal mana sepenuhnya harus disadari bahwa faktor-faktor itu benar-benar suatu penyakit yang yang perlu ditanggulangi.

Bilamana seseorang yang ingin terjun ke lapangan kebatinan, khususnya mereka yang mengharapkan untuk mendapatkan ilmu makrifat dan menikmati musyahadah, tidak bisa tidak harus menyadari sepenuhnya tentang besarnya bahayanya penyakit-penyakit itu. Seseorang pemabok minuman keras ataupun seorang penjudi akan sulit meninggalkan kebiasaannya itu, bila dia tidak menyadari sepenuhnya betapa bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kedua macam penyakit; alkohol dan judi.

🙏

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 35)


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.


AL-KAUN (ALAM, KEADAAN DAN PERISTIWA).




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

KAUN/KAUNUN artinya keadaan, peristiwa, kejadian. Secara keseluruhan bisa diartikan dengan "keadaan alam". Jamaknya ka-inaat.

Dalam istilah tasawuf terdapat banyak bentuk kata persamaannya, seperti kata "aghyaar" (yang lain-lain) maksudnya "yang selain Allah". Ada pula perkataan " mumkinaat " jamak dari perkataan "mumkin" diartikan "makhluk".

Jelasnya, segala yang selain Allah, digunakan istilah; ka-inaat, aghyaar, mumkinaat, dan lain-lain. Semua itu adalah fana yang kekal abadi hanyalah Allah Swt.

Syekh 'Arif Billah Ahmad Ibnu A'thoillah dengan kata hikmahnya itu (no.2) menegaskan bahwa segala kaun/ka-inaat ini adalah "zhulmatun" (kegelapan). Hal ini dapatlah dimengerti bila kita misalkan bahwa tanpa cahaya seseorang tak akan melihat apa-apa. Mata tidak akan berfungsi apa-apa bila tidak ada cahaya sedikitpun. Justru karena adanya cahaya itulah maka seseorang bisa melihat. Dengan demikian maka sebelum seseorang itu dapat mengerti apa yang dilihatnya atau pada ketika dia melihat ataupun sesudah dia melihat sesuatu yang terlihat adalah cahaya. Cahaya yang meliputi pandangan mata dan cahaya pula yang meliputi apa yang dipandang oleh mata. Bila seseorang melihat sebuah rumah yang terletak di atas sebidang tanah beserta tamannya yang indah, maka penglihatannya itu tidak dihubungkannya dengan adanya cahaya yang membias dan menerpa rumah dan pandangan mata, maka orang itu dianggap belum memahami keadaan yang sebenarnya.

Namun demikian, betapapun terangnya keadaan kalau mata tertutup dengan plester hitam dan bias cahaya tidak menerpa pandangan mata, maka pasti tidak akan dapat melihat apa-apa. Tutupan itulah yang dimaksudkan dengan "bisuhubil aastar". (awan kebendaan)

Musyahadah atau penyaksian terhadap AL-HAQ, tentu mengharapkan tembusan sinar kebenaran yang menelusup ke dalam jiwa, perasaan dan hati, sinar yang dinamakan "nur ma'rifat". Dengan nur-makrifat itulah seorang 'Arif bermusyahadah.

Untuk suatu penyaksian (musyahadah) terdapat tiga macam alat batin;

  1. Bashirah (pandangan batin).
  2. 'Ainul-Bashirah (pandangan mata batin).
  3. Syi'a-ul Bashirah (nyala pandangan batin.

Banyak faktor yang bisa menutupi pandangan batin sehingga sulit untuk melihat dan menyaksikan kebenaran yang hakiki. Lebih-lebih bila syahwat dan kenafsuan sudah menguasai terlalu dalam terhadap diri. Sudah ”mukabbalun bisyahwatihi” (ditunggangi oleh syahwatnya) Imam Al-Ghazali r.a. memisalkan hati sebagai kepingan baja hitam. Meskipun bagaimana hitamnya kepingan baja itu, bila diasah secara tekun dan kontinyu (terus menerus) pasti akan menjadi putih licin dan bersih, dan mampu untuk menerima bayangan dari arah manapun juga. Demikianlah keadaan hati bila dijaga dengan baik dan benar, dibersihkan dari karat-karat yang melekat dan meletakkan arahnya dalam keadaan yang tepat dan benar pula, maka hati akan sanggup menerima bayangan tulisan yang ada pada Loh Mahfuzh. Dalam suatu hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Ibnu 'Umar r.a. :

”Sesungguhnya langit dan bumi tidak mampu untuk menampung Aku. Hanya hati orang yang beriman yang sanggup menerima”.

Dalam Al Qur'an Allah berfirman:

اِنَّاعَرَضْنَـاالْاَمَـانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَـالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمٍلْنَهَا وَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُ اِنَّهُ كَانَ جَلُوْمًـاجَهُوْلاً .

”Sesungguhnya Kami telah menawarkan ”amanah” kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun mereka enggan menerima/menanggungnya dan mereka khawatir lalu manusialah yang bersedia menerimanya. Sungguh manusia menyakiti dirinya sendiri dia dzalim lagi bodoh”.(QS. Al-Ahzaab : 72).

Berat tanggung jawab manusia, dan berat pula untuk menerima Al-Haq. Tetapi di satu pihak Allah berikan kemampuan untuk menerimanya, suatu pemberian dan anugerah yang amat mulia dan paling berharga.

لاَيُكَلِفُ اللّٰهُ نَفْسًـااِلَّاوُسْعَهَا .

”Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”. (Al-Baqarah).

Dalam kitab Tanwirul Qulub dijelaskan bahwa jiwa manusia pada asalnya adalah ”lathifah-rabani-yah” (cahaya ketuhanan) dan dekat sekali hubungannya dengan Allah Swt. Selalu memuja dan memuji serta tasbih, yang diketahuinya hanya Allah semata-mata. Akan tetapi setelah jiwa itu berhubungan dengan jasad barulah jiwa itu mengerti bahwa ada yang lain lagi selain Allah Swt. Di sinilah titik awal dari apa yang disebut ”lupa”. Lupa terhadap keaslian dirinya sebagai ”lathifah-rabani-yah”. Lupa terhadap tugas yang harus diembannya karena segala yang lain dari Allah (ka-inat, kaun/aghyaar) yang baru diketahuinya itu telah mampu menguasai jiwanya. MUNTHOBI 'ATAN FI MIR 'ATIHI (melekat pada lensa mata hatinya). Di sinilah perlunya peringatan yang dibawa oleh para Rasul, juga peringatan yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفعُ اْلمُؤْمِنِيْنَ .

”Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin”. (Adz Dzaariyaat: 55).

Melaksanakan apa yang diingatkan oleh Rasulullah Saw. berupa larangan dan perintah, merupakan pembersih hati, jiwa dan perasaan yang paling tepat dan paling berguna.

Jiwa yang tadinya sebelum dibungkus dengan jasad dalam keadaan bersih dan suci, dengan pembersihan itu akan kembali seperti semula dapat menyaksikan AL-HAQ seperti dahulu. Selanjutnya dapat pula menyaksikan 'Arasy, Kursi dan lain-lain yang berada dalam alam Malakut.

(3). "Penyaksian/pandangan Yang Esa pada jumlah yang banyak. Penyaksian/pandangan terhadap yang banyak pada yang Esa" (Ad-Durrunnafis).

(4). "Al-Musyahadah adalah kehadiran AL-HAQ tanpa adanya prasangka". (Risalatul Qusyairiyah).

Yang Esa pada yang banyak, yang banyak pada yang yang Esa.

Rumusan ini tidak termasuk dalam ajaran Wihdatul Wujud, dia ada dalam rumusan ajaran Wihdatus-Syuhud. Pada dasarnya istilah apapun yang dipergunakan dalam ajaran ilmu makrifat tidaklah bisa dipersalahkan selama istilah-istilah itu tidak bertentangan dengan syara', atau rumusan-rumusan itu tidak membawa pengaruh buruk terhadap iktikad yang sudah menjadi pegangan umat. Misalnya, rumusan tentang Ke-Tuhanan dan Kenabian Ahmadiyah, semufakat para ulama di Indonesia untuk tidak menerimanya. Karena dianggap bergesar dari ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sudah mapan dalam masyarakat Islam di Indonesia ini.

Sehubungan dengan rumus yang tercantum pada no. 3 haruslah diartikan dalam rangka penyempurnaan iman dan tauhid sehingga benar-benar dapat dirasakan makna yang sebenarnya dari/tentang Esa_Nya Allah Swt. Kalimat: Yang Esa pada yang banyak, maksudnya adalah pada waktu menyaksikan/memandang yang banyak; berupa benda, keadaan, ataupun bentuk, maka timbullah pada dhihin (pikiran) ”dari mana datangnya yang sebanyak ini? ”, kemudian-setelah dibolak-balik tanya dan jawab, maka jawaban puncak adalah bahwa semua ini tidak bisa tidak pasti dari Allah Al Kholiq Yang Maha Esa. Rumusan pada no. 3 itu ternyata bersesuaian dengan apa yang dikatakan oleh Imam Al Asy'ari r.a. (pembangun Faham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah).

اَلْوُجُوْدُ عَيْنُ الْمَوْدِ .

”Al-Wujud adalah kenyataan maujud”.

Bila syuhud/musyahadah itu dalam mengambil keputusan terakhir (kata putus: Bahasa kitab kuning) "Semua ini dari Allah, dan dari Allah semua ini" yang disuarakan oleh hati dan keyakinan hasil dari renungan yang mendalam, maka musyahadah yang demikian sudah memadai. Keputusan akhir yang diambil berdasarkan apa yang diterima dari suatu pelajaran atau karena begitu yang tercantum dalam kitab-kitab, maka keputusan tersebut masih dalam kategori makrifat mutakallim atau makrifat taklid. Belum sampai kepada pengertian makrifat billah. Musyahadah dalam pengertian makrifat mutakallim (berdalil) atau makrifat taklid (ikut-ikutan) dinamakan Musyahadah bil'ilmi, belum mencapai tingkat musyahadah biz-dzauqy (perasaan).

musyahadah biz-dzauqy atau penyaksian dengan perasaan murni itu bisa saja langsung didapat oleh seseorang tanpa lebih dahulu "bil'ilmi" tetapi hal tersebut jarang terjadi. Ulama sufi menyebutnya dengan istilah "naadir". Semua itu tergantung ada atau tidak " jidzib" (tarikan) Allah Yang Maha Rahman.

Penyaksian dengan perasaan murni itu adalah suatu penyaksian yang tidak perlu diragukan lagi. Ketidak raguan itu ditanamkan oleh Allah pada perasaan dan pikiran yang menemukannya. Sehingga, tidak sedikitpun ada prasangka bahwa yang disaksikan itu lain dari Al-Haq.

Ada orang yang datang kepada penulis menceritakan pengalamannya sewaktu dia sedang dalam Khalwat. Tiba-tiba dia melihat serangkum cahaya yang luar biasa. Keindahan cahaya itu tidak dapat digambarkan. Dan dia tidak melihat ada yang lain selain dari cahaya itu. Yang ditanyakan katanya: "Apakah yang saya lihat itu Al-Haq?". Secara spontan penulis menjawabnya "Yang saudara lihat itu bukan Al Haq. Tetapi cahaya". Dia bertanya lagi: " kenapa bapak dengan secara pasti menyatakan bahwa itu bukan "Al-Haq?". Penulis menjawab: "Karena saudara bertanya. Seseorang yang benar-benar menyaksikan Al-Haq, tidak ada sedikitpun dalam ruang pikir dan hatinya suatu tanda tanya. Tiap-tiap ada pertanyaan berarti ada unsur keragu-raguan". Selanjutnya penulis memberikan suatu contoh: " Ini sebungkus rokok. Rokok ini seakan-akan berkata berkata kepada saya, "saya rokok". Saya tidak ragu-ragu bahwa ini adalah rokok. Seribu orang menyatakan lain, saya tetap mengatakannya rokok. Dan saya tidak perlu bertanya kepada siapapun juga, apa benar ini rokok atau tidak".

Ini sekedar suatu contoh, sejalan dengan bunyi yang dimaksud pada jemputan kata no. 4.

5. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal Dia-lah yang men-zahirkan sesuatu". (Al-Hikam).

6. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal Dia-lah yang tampak pada segala sesuatu". (Al-Hikam).

7. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal Dia Maha Nyata sebelum adanya sesuatu". (Al-Hikam).

8. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat didinding oleh sesuatu, padahal Dia lebih nyata dari sesuatu". (Al-Hikam).

9. "Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendindingi Allah, padahal kalau tidak Dia, tidak ada segala sesuatu". (Al-Hikam).

10. "Alangkah ajaibnya, Bagaimana mungkin Yang Maha Ada bisa Zhahir/nyata padahal di dalam yang tidak ada". (Al-Hikam).

🙏

”menuntut ilmu adalah taqwa menyampaikan ilmu adalah ibadah mengulang-ulang ilmu adalah dzikir mencari ilmu adalah jihad". (Imam Al-Ghazali ).


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan, K.H. Haderanie H.N.


PENDAHULUAN MUSYAHADAH




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Dari segi bahasa, perkataan MUSYAHADAH berasal dari rumpun kata ”syahida-syaahada” bersaksi-menyaksikan. Seseorang akan memasuki Agama Islam maka dia wajib mengucapkan dua Kalimah Syahadat yakni suatu kesaksiannya: ”AKU BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA TUHAN YANG PATUT DISEMBAH KECUALI ALLAH DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH”. Tanpa ucapan itu, maka orang tersebut belum bisa dikatakan penganut Agama Islam.

Untuk perkataan MUSYAHADAH ini, penulis menterjemahkannya dengan kata ”penyaksian”. Dalam kitab-kitab lama berbahasa melayu umumnya diartikan ”pandang syuhud ”, ialah: suatu pandangan batin sebagai suatu penyaksian yang tidak diragukan lagi.

Dalam ilmu tasawuf sehubungan dengan ajaran ilmu Makrifat terdapat banyak istilah yang mirip/hampir bersamaan atau istilah populernya, serupa tapi tak sama. Istilah-istilah itu antara lain :

  1. Mukasyafah (terbuka tirai).
  2. Muwajahah (berhadap-hadapan).
  3. Mulaqiyah (pertemuan).
  4. Muhadlorah (kehadiran) dan banyak lagi.

Semua istilah-istilah itu bersumber dari Al Qur'an ataupun hadits :

MUKASYAFAH, diambil dari ayat ”fa kasyafna 'anka ghithoaka” (Kami bukakan darimu tutupanmu).
MULAQIYAH, diambil antara lain ayat ”mulaqu rabbihim” (menjumpai Tuhan mereka) S. Al Baqarah : 46.
MUWAJAHAH, diambil dari ucapan Nabi Ibrahim a.s. tersebut dalam Al Qur'an ”wajjahtu wajhia lil-ladzi fatharas-samawati ……wa ana awwalul muslimin” (bacaan Do'a iftitah).

Penggunaan istilah-istilah ini dengan menggunakan istilah Al Qur'an, sedikitnya bisa ditegakkan sebagai hujjah (alasan) dan tidak ada alasan untuk bisa dipersalahkan.

Ucapan-ucapan Para Arif Billah yang berhubungan dengan musyahadah, mukasyafah, mahabbah dan sebagainya itu, umumnya dikemukakan dengan kalimat yang metaporistis yang memerlukan pemahaman dan pendalaman.

(1). ”Bagaimana mungkin hati akan cemerlang, sedang gambaran dari semua keadaan terlalu lekat pada lensa mata hatinya, atau bagaimana mungkin akan bisa menuju Allah sedang dia sendiri menjadi tunggangan nafsu syahwatnya.” (Al-Hikam).

(2). ”Segala keadaan dan peristiwa alam semesta ini seluruhnya menunjukkan kegelapan. Padahal yang memberikan cahaya pada semua itu karena amat nyatanya Al-Haq padanya. Siapa yang melihat semua keadaan tetapi tidak dia saksikan Allah Al-Haq padanya, atau pada saat melihatnya (kaun) atau sebelum dan sesudahnya maka sesungguhnya dia disilaukan oleh cahaya-cahaya itu dan tertutuplah matahari makrifatnya akibat tebalnya awan kebendaan”. (Al-Hikam).

🙏

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 69)


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.


MUJAHADAH DAN SARA'IR.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Mujahadah adalah salah satu metode untuk menuju makrifat, musyahadah dan mukasyafah. Berasal dari kata ”jahada” (berusaha keras) dan ”ijtahadah”. Mujahadah dalam ajaran ilmu Makrifat dapat didefinisikan: ”Kesungguhan hati dan perilaku dengan penuh ketekunan, mencari dan menghayati kebenaran hidup, (hakikat) sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul.

Mujahadah termasuk dalam katagori ajaran THORIQAT (jalan). Untuk mencapai suksesnya sesuatu perjuangan apapun dalam bentuk yang bagaimanapun juga tidak terlepas dari faktor kesungguhan, ketekunan, yang untuk ini kita sebutkan saja dengan faktor MUJAHADAH.

Allah Swt. berfirman :

وَجَـاهِـدُوافِى اللّٰهِ حَقَّ جِـهَـادِهٖ .

”Dan berjuanglah kamu pada agama Allah dengan sebenar-benar perjuangan.” (S. Al-Hajj : 78).

وَالَّذِيْنَ جَـاهَـدُوْا فِـيْنَـالَـنَهْدِ يَنَّهُمْ سُـــبُلَــنَـا

”Mereka yang bersungguh-sungguh dijalan Kami akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami.” (S. Al-'Ankabut : 69).

Hadits Rasulullah Saw. :

رَجَـعْــنَــامِـنْ جِــهَــادِالْأَصْغَرٍ اِلٰى جِــهَـَادِالْأَكْــبَـرِ وَهِىَ جِــهَـادُا لنَّـفْسِ .

”Kita kembali dari perjuangan kecil menuju perjuangan besar, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu”. (Hadits Shohih).

Mungkin dipertanyakan; ”dalam hal apakah MUJAHADAH atau kesungguhan ini harus dilakukan?” Pertanyaan ini dapat dijawab: ”Dalam upaya untuk mendapatkan karunia Allah berupa ilmu Makrifat, Musyahadah, Mukasyafah dan Mahabbah yang seyogyanya harus diperhatikan :

  1. Persiapan mental yang tinggi dengan niat yang bersih karena Allah semata-mata. Bukan karena ingin menjadi wali-karomah lalu dengan harapan supaya orang-orang pada kagum melihatnya.

  2. Meyakini ajaran tasawuf dan ilmu makrifat, tanpa sedikitpun ada keragu-raguan dengan mempelajarinya dari guru-guru (Syekh) yang benar-benar menguasai ilmu ini berdasarkan dalil-dalil naqal (Al Qur'an, Hadits, dan Kitab-kitab Mu'tabarah). Seorang guru yang hanya mengandalkan dengan cerita-cerita pengalaman dirinya sendiri (mendapat wangsit, ilham, mimpi bertemu Rasulullah, wali-wali dll) tetapi miskin dengan dalil dan nas, maka guru demikian disebut seorang guru yang tidak rosikh (tidak tepat). Mungkin pengalaman- pengalamannya yang diceritakan tentang dirinya itu benar saja, tetapi tidak harus dipegang. Kalaupun ceritanya itu benar-benar terjadi maka hal itu hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.

  3. Melaksanakan ”khalwat” (menyendiri) pada suatu tempat yang sepi tanpa kebisingan agar mudah untuk berkonsentrasi. Hendaknya khalwat ini dibawah pengawasan guru mursyid/Syekh.

Dalam khalwat inilah diperlukan kesungguhan dan ketekunan yang maksimal, karena dalam khalwat itu banyak yang harus dilakukan antara lain :

  • dzikir, tasbih, tilawatul Qur'an (sesuai petunjuk Syekh/Guru/Mursyid).

  • puasa.

  • sahrul layali (berjaga malam) dengan mengamalkan apa yang diijazahkan oleh Guru/Syekh.

  • Muraqabah (mengintip dirinya) dari pikiran-pikiran yang tidak dibenarkan oleh syara', pemusatan pikiran hanya kepada Allah.

Untuk ini Syekh Mahyuddin Ibnul 'Araby sebagai seorang Auliya dan Ahlul Kasyaf dan Ahlul Karomah mengemukakan dalam bentuk sebuah syair:

”Wahai orang-orang yang menginginkan pangkat abdal, tetapi tiada maksud untuk beramal, tidak mungkin anda dapat merasakannya, dan anda bukanlah ahlinya, bila anda tidak melaksanakan ahwalnya. Istana kewalian itu terbagi atas rukun-rukunnya, sepanjang pendapat penghulu-penghulu kita, yang diantaranya terdapat wali abdal, yaitu tidak banyak kata dan mengasingkan diri menahan lapar dan berjaga, memuji dan tasbih kepada Allah Yang Maha Tinggi.

Acara ”khalwat” memang tergolong suatu amalan yang cukup berat, memerlukan kehati-hatian dan ketelitian. Sering terjadi, mereka yang melaksanakan acara itu (khalwat) malah tidak menemukan hasil apa-apa atau kadang-kadang yang ditemui dalam Khalwatnya hanya Jin-jin. Si Jin bisa saja memberi petunjuk, padahal bertentangan dengan petunjuk syara' atau petunjuk yang agak samar. Karena tidak mengerti lalu petunjuk Jin itu diterima begitu saja.

Justru itulah, untuk ini perlu pengawasan Syekh/Guru yang dikalangan ahli Thoriqat disebutkan MURSYID (pemberi petunjuk) melakukan acara khalwat.

وَفِى فَنَـاءِى فَنَءِى وَجَدْتُ اَنْتَ .

”Dalam fanaku, lalu fana pulalah fanaku itu, di kefanaanku ini, kudapati Engkau.” (Saidina Ali bin Abi Thalib r.a.).

Demikianlah seorang yang bermujahadah, tekun dan sungguh-sungguh, si Mukmin yang Khalis sampai pada tingkat Musyahadah.”

🙏

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 69)


Sumber: Buku Ilmu Ketuhanan.
Oleh: K.H. Haderanie H.N.
TINGKATAN MAKRIFAT.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.



Sehubungan dengan adanya perbedaan tingkat makrifat tersebut pada no.15, baiklah kita kembali ke jemputan kata no.1 (Aiqazhul Himam) dijelaskan, bahwa tingkatan makrifat kepada Allah ada tiga tingkat:

  1. Makrifat dengan Allah.

  2. Makrifat dengan dalil.

  3. Makrifat ikut-ikutan (taklid).

Tingkat yang tertinggi dari ketiga tingkatan itu adalah ”makrifat kepada Allah dengan Allah” (lihat penj.2). Untuk mereka yang mencapai tingkat ”makrifat dengan Allah, terdapat perbedaan-perbedaan menurut ukuran apa yang telah terbuka buat mereka (no.15). Golongan inilah yang mencapai tingkat Auliya (Waliyullah).

Bermacam-macam karomah yang mereka dapatkan sesuai dengan tingkatan mereka di sisi Allah. Yang mengetahui benar derajat kewalian itu hanyalah Allah Swt sendiri, atau orang yang men-dapat pemberitahuan Allah tentang kewalian seseorang.

Diantara Para Auliya itu sendiri ada yang berkata:

وَمَنْ قَالَــــ اَنَّهُ وَلِىٌّ فَإٍنَّهُ كَذَّابٌ عَلـٰى اْلكَــذَّابِ.

”Siapa yang berkata bahwa dirinya sendiri adalah seorang Waliyullah maka orang itu adalah pendusta dari segala yang pendusta. ”

Seseorang yang hanya berada pada tingkat kedua, ”makrifat dengan dalil” belum tentu dapat mengerti tentang kewalian seseorang yang berada tingkat kewalian yang pertama, kecuali dia mendapatkan ilham dari Allah Swt adapun golongan awam bisa mengerti kedudukan seseorang pada tingkat pertama itu karena adanya pemberitahuan dari tingkat yang lebih tinggi darinya.

Sepanjang keterangan para ulama bahwa terdapat dua golongan Auliya Allah 1. Wali Istiqamah, 2. Wali Majdzub, Wali Istiqamah ialah seorang 'Arif Billah yang sikap lakunya sehari-hari seperti orang biasa, tetapi kegigihannya dalam menjalankan agama, keberaniannya, kepribadiannya, wibawanya di samping karomah yang Allah limpahkan kepadanya, seperti yang Allah firmankan:

اِنَّ اَوْلِيَاءَاللّٰهِ لَاضَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَاهُمْ يَحْزَنُوْنَ.

”Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa takut dan gentar ”. (QS. Yunus : 62).

Tentang Wali Majdzub, umumnya perilaku mereka berbeda dengan orang-orang kebiasaan, tetapi tidaklah berarti maksiat, karena untuk mereka Allah peliharakan dari hal-hal maksiat itu.

MAJDZUB artinya ditarik, yakni kewaliannya itu merupakan anugerah langsung dari Allah, untuk dirinya sendiri. Kalau WALI ISTIQAMAH mampu memimpin umat dan menyebarkan ajarannya, tidak demikian dengan WALI MAJDZUB.

Berkenaan dengan khutbah Saidina Abu Bakar r.a. yang disampaikan oleh Imam Al Junaid hendaknya bisa dipahami, bahwa yang dimaksudkan oleh beliau ”lamyaj'al lil khalqi sabilan ila ma'rifatihi” (tidak pernah menciptakan jalan apapun bagi makhluk_Nya untuk makrifat kepada_Nya) bukan berarti sama sekali tidak ada seorang makhlukpun bisa mengenal_Nya.tujuan kalimat beliau itu harus dilihat adanya perkataan ”ila” (harful isttisna - huruf pengecualian). Seperti diuraikan pada uraian-urian yang terdahulu, tidak ada jalan apapun untuk mengenal_Nya kecuali dengan nur makrifat yang Allah karuniakan kepada hamba_Nya yang ia kehendaki, hamba yang mengakui kelemahan dan kefanaan dirinya.

اَلْمُجَاهَدَةُ فَطْمُ النَّفْسِ عَنِ المَألُوْفَاتِ وَحَمْلُهَاعَلٰى خِلَافِ ذَالِكَ هَوَاهَافِى عُمُوْمِ الأَوْقَاتِ .

(17). ”Mujahadah, adalah penekanan nafsu dari (hal-hal) yang menggiurkan, dan prakteknya melawan keinginan hawa nafsu di sembarang waktu”. (Risalah Al-Qusyairiyah).

مَنْ زَيَّنَ ظَاهِرَهُ بِالْمُجَاهَدَةِ حَسَّنَ اللّٰهُ سَرَاءِرَهُ بِالْمشَاهَدَةِ .

(18). ”Siapa yang menghiasi dirinya pada lahir dengan MUJAHADAH, Allah perindah pula s a r a i r nya (rahasia-rahasia yang amat halus pada bagian hati yang paling dalam) dengan MUSYAHADAH”. (Risalah Al-Qusyairiyah).

🙏

”Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim”. (HR. Ibn. Majah, Thabrani, Baihaqi).





ALLAH CIPTAKAN ADAM SEPERTI GAMBARAN TUHAN.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Hadits Rasulullah yang menyatakan tentang ”ADAM SEPERTI GAMBARAN TUHAN (Kholaqa Adama ka Shuratihi) sebuah hadits shohih, yang kalimatnya terasa cukup menakjubkan. Hal ini penulis kemukakan sehubungan dengan banyaknya ucapan, ungkapan dan ujaran kalangan sufi yang dalam nada seperti itu.

Al Qur'anul Karim dan Kitab-kitab suci lainnya banyak sekali berisi kalimat-kalimat yang metapor, kinayah dan sindiran. Oleh sebab itu, bila menemukan ungkapan, ujaran dan ucapan dikalangan sufi dengan nada demikian, jangan hendaknya langsung Melampiaskan tuduhan negatif terhadap mereka.

Allah berfirman :

وَيَضْرِبُ اللّٰهُ اْلاَمْشَالَ لِلنَّاسِ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ.

”Allah buat beberapa perumpamaan (amsal) untuk manusia, dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang tersembunyi.” (QS. An-Nur : 35).

Selanjutnya Rasulullah Saw. bersabda :

اِنَّ فِى الْقُرْاَنِ سَـبعَةَ بُطُـوْنٍ

”Sesungguhnya, di dalam Al Qur'an itu terdapat tujuh pengertian yang tersembunyi.” (Hadits).

Memang dapat dimengerti, kadang-kadang kalimat-kalimat yang diucapkan oleh para 'Arif itu cukup menghebohkan, lebih-lebih bila dipandang dari sudut kaedah-kaedah yang berlaku, dilihat dari lahir kalimat. Namun bila dilihat dari yang tersirat di balik yang tersurat akan dapat dirasakan kemanisan dan keindahannya.

Ucapan Syekh Junaid q.s. seperti yang tersebut pada no.11, ada yang memahaminya; ”lahir - batin Allah Ta'ala, luar dalam Allah Ta'ala, seperti gelas dengan air sama warnanya. Pemahaman demikian adalah sebagai suatu i'tibar, yang membahayakan, bila tidak ada kejelasan secara rinci kemungkinan besar orang akan beranggapan ”diri sama dengan Tuhan”

Untuk memahaminya harus dilihat lebih dahulu siapa sebenarnya beliau itu, sejarah hidupnya, pahamnya, Ahlus - Sunnah atau Jabariyah, kepribadiannya, dan lain sebagainya. Beliau dikenal seorang yang amat wara' (berbudi luhur) tawadlu' (rendah hati) dan diceritakan betapa saat akhir hayatnya demikian indahnya dan amat mengesankan. Wafatnya di hari Jum'at setelah membaca ayat Al Qur'an Surah Al Baqarah sampai pada ayat ke 70. Mungkinkah dengan kalimat itu beliau mengakui dirinya sendiri sebagai Tuhan. Tidak mungkin. Pengertian yang benar; Seorang yang Arif Billah bukanlah seorang yang munafik (lain di luar lain pula di dalam). Indah pada batinnya, indah pula perilaku hidupnya.

Demikian pula ungkapan kata dari Syekh Ruwaim, yang memberikan misal dengan cermin, haruslah diartikan bahwa makrifat itu adalah cermin dirinya untuk dapat dilihat dan dibaca, sehingga dalam musyahadah akan terasa betapa nyatanya Allah Swt.

Jemputan no.13 tentang ”tahayyur” (kebingungan pada tingkat kesadaran yang tinggi) adalah dalam pengertian tingkat ”mahabbah” cinta yang sulit untuk digambarkan.

Seseorang yang yang dikaruniai oleh Allah dengan NUR MAKRIFAT, kadang kala dalam perilakunya sehari-hari terlihat keganjilan-keganjilan. Misalnya, pernah penulis menemukan seseorang yang apabila dia ikut menghadiri suatu kenduri (selamatan) pakaiannya agak ganjil. Baju dalamnya yang sudah agak lusuh dan sobek-sobek dia taruh diluar, sedang baju kemeja yang masih baik dan bersih dia buat baju dalam. Waktu ditanya kepadanya; ”kenapa harus begitu?” dia menjawab sambil berbisik: ”Yang di dalam dikeluarkan selalu jelek seperti kotoran manusia”. Ditanya pada waktu yang lain, dijawabnya dengan tangis memelas: ”Dagingku ini kelak akan lebih busuk dari baju ini”. Setelah direnungkan kalimat-kalimatnya itu, nyata sekali benarnya.

Yang seharusnya ”di dalam ” amat berbahaya bila ”dikeluarkan” atau diucapkan, KALAM QADIM yang datang pada ”sir” (bagian dalam pada hati dan perasaan) hanya untuknya sendiri, bukan untuk orang lain.

Seperti yang diucapkan oleh Ibnu 'Abbas r.a. dan Abu Hurairah r.a. (berbeda lafal hadits nya tetapi dengan maksud yang sama).

”Bilamana kuuraikan apa yang kudapat dari Rasulullah (ilmu batin) maka pasti akan kamu potong leherku ini, atau kamu katakan bahwa aku ini (Ibnu 'Abbas/Abu Hurairah) adalah kafir”.

Di sinilah kuncinya apa yang dimaksudkan dengan perkataan ”tahayyur” atau ”asyaddu tahayyur”. (sangat bingung/kagum). Kenapa jadi kagum dan bingung?

Manusia penuh dengan keterbatasan. Tidak semua yang dia rasakan dapat diungkapkannya dengan tulisan atau pun lisan. Seorang penonton film horor misalnya, Sekembalinya di rumah lalu ditanya bagaimana ceritanya, dia hanya menjawab: ”hebat, luar biasa”. Atau dengan ucapan; ”saya ngeri kalo dibohongin, tapi hati seneng”. Hal ini mengisyaratkan betapa seseorang yang sulit menggambarkan apa yang ia rasakan.

Bait syair melukiskan hajat seorang sufi agar ditingkatkan rasa tahayyurnya:

”Ya Tuhan, tambahlah untukku rasa hairah, karena cintaku melebihi batas, sayangilah sepenuh panas membara ”.

”Sebagian dari tanda-tanda makrifat dengan Allah adalah berhasil mendapat kehebatan-wibawa dari pada Allah. Maka siapa yang bertambah makrifatnya bertambah pula kehebatannya”. (Risalah Qusy.)

”Demikianlah, sesungguhnya terdapat perbedaan tingkat makhluk dalam hal makrifat kepada Allah Ta'ala, menurut ukuran apa yang terbuka buat mereka dari pemberian-pemberian Allah (ilmu-ilmu yang halus), ke'ajaiban-ke'ajaiban segala yang dikuasai_Nya, dan keindahan ayat-ayat_Nya di dunia dan di akhirat, di alam nyata maupun di alam gaib (malakut). Bertambah makrifat mereka dengan Allah, dan bertambah dekat pula tingkat makrifat mereka menuju makrifat yang sebenarnya/hakiki ”. (Siraj. Tholibin).

”Abdul Qosim Al Junaid berkata: ”Tidak ada yang (dapat) mengenal Allah kecuali Allah sendiri, telah berkata Abu Bakar r.a. pada sebagian khotbah beliau di atas mimbar; ”Segala puja-puji hanya untuk Allah yang tidak pernah menciptakan jalan apapun bagi makhluk untuk makrifat kepada_Nya kecuali (makhluk itu sendiri) dapat merasakan kelemahan untuk makrifat kepada_Nya. (Siraj. Tholibin).

🙏

”Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim”. (HR. Ibn. Majah, Thabrani, Baihaqi).





DZAUQUN SHOHIH/PERASAAN MURNI.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Para psikolog sesuai dengan profesinya mengerti benar tentang apa yang mereka namakan ”intuisi”, yang untuk ini penulis terjemahkan saja dengan ”perasaan murni” yang dalam bahasa Arab disebut dzauqun shohih. Rasa seni dan rasa cinta sebagai suatu fenomena kejiwaan, bersumber dari perasaan murni. Kehalusan perasaan para Arif Billah yang memiliki rasa seni dan cinta kepada Allah Maha Pencipta, mereka tuangkan dalam bentuk prosa dan puisi yang sangat indah dan mempesona. Penuangan rasa murninya dalam bait-bait sajak dan syair kadang kala jauh bergeser dari ukuran norma dan kaidah, namun mereka menemukan kepuasan dan keindahan yang sulit untuk dapat dirasakan oleh orang lain.

Seperti penyair Chairil Anwar dengan AKU nya: ”Aku binatang jalang, kumpulan terbuang, ingin hidup seribu tahun lagi”. Orang lain boleh saja tidak sependapat dengan puisinya, namun begitulah mereka.

Dapatlah kita merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Abu Yazid Busthomi r.a. dengan sekelumit ucapannya itu? Beliau sebagai tokoh sufi pada zamannya, ulama, ahlul-ibadah berkepribadian terpuji, rendah hati dan amat sederhana cara hidupnya, pencinta sesama, sampai hatikah kita memvonis beliau dengan putusan yang mengerikan ”sesat dan menyesatkan”, hanya karena luapan perasaannya sendiri dan untuk dirinya sendiri? Untung-untung andaikata tuduhan itu dibenarkan oleh Allah dan Rasul di akhirat kelak, si penuduh tidak menerima resiko apa-apa tetapi juga tidak mendapat hasil apa-apa dengan benarnya tuduhan itu. Tetapi andai kata pada sisi Yang Maha Adil Allah Swt. beserta Rasul_Nya tuduhan itu tidak dibenarkan, maka suatu bencana besar pasti akan diterima oleh si penuduh.

Dunia mereka para 'Arif adalah dunia kebatinan 'asyik wal ma'syuk, mereka tenggelam dalam dunianya yang mereka rasa lebih nikmat dan suci dibanding dengan dunia materi yang sedang dihadapi. Demikian pula ungkapan oleh Syekh Junaid yang sama sekali tidak menghiraukan apapun jua kecuali yang mereka cintai. Kalau dunia materi itu ada pada mereka, sama sekali tidak tersangkut di dalam hatinya meskipun hanya selembar sapu tangan. Hati hanyalah tempatnya ”dzikirullah”. Akal dan nafsu silahkan melaksanakan tugasnya tetapi jangan menyeret hati yang berperasaan murni ke dalam kancah dunia materi yang menggiurkan. Ada ungkapan yang berbunyi:

”Rumah bagus dan cantik, letaknya di tanah. Jangan letakkan di dalam hati. Kalau rumah terbakar habis, tanah akan kembali semula. Bila rumah diletakkan di hati, perih dan menyakitkan. Hati terbakar dan panas, air mata belum tentu mampu memadamkan dan mendinginkannya. Harta, emas dan perak, simpanlah dalam peti besi yang kukuh, jangan disimpan di dalam hati. Bila pencuri datang berkunjung, yang hilang hanya peti dan isinya. Kalau disimpan di dalam hati, hati terbawa entah kemana. Tercabut terbongkar dari tempatnya, sakitnya tidak terkira-kira. Hudlurlah hati beserta Allah, tak akan sirna, kekal dan indah.”

Mereka (Para 'Arif) berpegang teguh pada ayat Al Qur'an :

مَـاعِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَـا عِنْدَاللّٰهِ بَاقٍّ وَلَنَجْزِيَنَ الَّذِيْنَ صَبَرُوْآ اَجْرَه‍ُمْ بِاَحْسَنِ مَـاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ.

”Apa-apa yang ada pada kamu akan lenyap dan apa-apa yang di sisi Allah adalah kekal. Dan sungguh Kami memberi balasan terhadap orang-orang yang sabar akan pahala yang lebih daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 96).

Harapan mereka adalah agar mendapatkan pengakuan Allah sebagai MUKMIN 'INDALLAH ( Mukmin di sisi Allah) suatu keadaan yang paling membahagiakan buat mereka.

”Syekh Al - Junaid ditanya orang tentang 'Arif, maka beliau menjawab : ”Warna air adalah warna gelasnya”.(Risalah Al Qusy.)

”Ruwaim berkata : ”MAKRIFAT bagi seorang ’Arif adalah cermin, bila dia memandang dalam Makrifat/cermin itu, tampak nyatalah/tajallilah Tuhan untuknya.” (Sirajut - Tholibin).

”Manusia yang paling tinggi makrifatnya kepada Allah, ialah mereka yang sangat ”tahayur”. (Tanwirul Qulub).

🙏

Yang dimaksud mengenal diri ialah : dengan menegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah dan mengenal Allah yang bersifat Kemuliaan, Ke-Agungan, dan Kuasa. Dan mengenal diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanya sebagai seorang musafir dari dunia menuju akhirat. (Sirajut Tholibin).





ILMU MAKRIFAT PERLU DIPELAJARI.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Ilmu hakikat dan ilmu makrifat, dikenal di masyarakat dengan nama ”ilmu dalam”. Menurut cerita orang tua-tua, di zaman penjajahan Belanda dahulu, sebelum datang bala tentara Jepang, menuntut ilmu ini amat sukar sekali. Kalaupun ada, terpaksa dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Lain halnya dengan pelajaran ilmu fiqih, ada sedikit kebebasan. Sehingga perkembangan ilmu ini seakan-akan stagnasi. Hal tersebut disebabkan adanya dua hal:

  1. Adanya larangan pemerintah Belanda tentang ”berapat dan berkumpul ”, meskipun ditujukan kepada kegiatan politik, tetapi tidak tertutup kemungkinan terlibatnya mereka yang menuntut ilmu dengan sistem ”kaji duduk”.

  2. Pendirian dari para ulama sendiri, dengan terlalu amat hati-hati untuk mengajarkan ilmu ini, kecuali untuk mereka yang sudah dianggap memenuhi syarat.

Satu hal yang jelas, bahwa penjajah Belanda amat tidak menyenangi orang-orang Islam Inlander yang mempelajari ilmu tasawuf (meskipun tidak ada larangan hukum secara tertulis) karena berdasarkan pengamatan dan penelitian mereka, kunci kekuatan Islam Inlander terletak pada keyakinannya pada ilmu tasawuf, sehingga penuntut ilmu tasawuf ”tidak ada rasa takut mati” untuk melakukan pemberontakan sewaktu-waktu terhadap pemerintah Belanda. Perlawanan Diponegoro, Perang Padri di Aceh, Perlawanan Pangeran Antasari di Kalimantan (kerajaan Banjar). Perlawanan Pangeran Hasanuddin di Sulawesi, pada dasarnya dilandasi oleh semangat Tasawuf. Hal ini disadari dan dimengerti oleh seorang tokoh Belanda prof. Snock Horgrunye, seorang ahli (pakar) dalam hal ke Islaman di tanah Hindia Belanda ini.

Tentang ke-hatian-hatian para Ulama untuk mengajarkan ilmu tasawuf/ilmu makrifat itu kepada para peminatnya. Berdasarkan tafsiran terhadap lafal hadits ”ala qadri 'uqulihim” (menurut kadar akalnya) dan harus kepada ”a h l i n y a”. Maka tafsiran tentang ”ahlinya” inilah, menimbulkan ketatnya penyebaran ilmu tersebut. Prinsip ”ahlinya” ini diartikan, harus memahami sifat dua puluh secara rinci, melaksanakan dan mempelajari syariat secara tekun serta mendalam. Mereka khawatir kalau-kalau terjadi sikap batin yang akhirnya tidak perduli kepada syara'. Ditambah lagi dengan sengaja dibesar-besarkannya ”kesalahan” ajaran Hamzah Fansyuri di Sumatera, Syekh Siti Jenar di Jawa, Syekh Abdul Hamid Habulung di Kalimantan dan lain-lain, dengan kasus yang hampir bersamaan dengan kasus Al Hallaj (Husein Ibnu Manshur).

Dilema yang timbul dengan upaya mendeskriditkan ajaran makrifat di satu pihak, dan umat yang sedang kehausan untuk mencari ajaran kepuasan batin pada pihak yang lain, maka tidaklah mengherankan bila di sana-sini timbul ajaran-ajaran kebatinan baru, baru ukuran zaman itu -secara sembunyi dan terang-terangan. Di Jawa tengah, tidak lama setelah penyerahan kedaulatan oleh pemerintah Belanda kepada Republik Indonesia Serikat yang kemudian disusul dengan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, lahirlah Islam Igama Hak (I.I.H) dengan Kantor Urusan Agama sendiri yang direstui oleh menteri kehakiman pada waktu itu. Mr. Jody Gondokusumo.

Kita berharap, dalam rangka pembangunan mental spiritual dewasa ini, perlu terwujudnya wawasan pengetahuan agama Islam yang lebih luas, disertai penelitian-penelitian sejarah, dimana ilmu makrifat telah memberikan andil besar memperkuat semangat perjuangan Bangsa.

Anjuran Syekh Muhammad Amin Al Kurdi rahmatullah 'alaihi (no.7) agar mempelajari sungguh-sungguh ajaran makrifat kepada Allah, sebagai acuan bagi umat, terutama untuk mereka yang mencari kepuasan batin.

Imam Ghazali r.a. sebelum merasakan nikmatnya ilmu ini meskipun sudah menjadi ulama ikutan pada zamannya sebagai pembesar Negeri, barulah beliau mendapatkan kepuasan batin setelah beliau menyediakan sebagian umurnya untuk ber'uzlah, sambil beliau menyusun beberapa kitab, a.l. sebuah Kitab yang terkenal Ihya 'Ulumuddin. Sebagian para 'Arif Billah mengatakan (termasuk Imam Ghazali):

”Siapa yang tidak kebagian ilmu ini (ilmu batin), saya khawatir atasnya akan menemukan ”su-ul khatimah”. Dan tidak ada jalan yang dapat mengenal_Nya, kecuali dengan perasaan murni” (Sirajut Tholibin).

Dengan kalimat ini, tidak berarti mereka memvonis pasti SU'UL KHOTIMAH (mati dalam keadaan jelek) tetapi mereka merasa perlu mengemukakan kekhawatiran mereka demi kepentingan umat.

”Yang dimaksud dengan MAKRIFAT adalah empat perkara; a) mengenal diri, b) mengenal Tuhan, c) & d) mengenal dunia dan akhirat. Yang dimaksud mengenal diri ialah dengan menegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah Mengenal Tuhan yang bersifat Kemuliaan, ke Agungan, dan Kuasa. Dan mengenal diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanya sebagai seorang musafir dari dunia menuju akhirat.” (Sirajut Tholibin).

”Hanya sanya, mereka yang telah mencapai tingkat makrifat adalah mereka yang (dalam batin) tidak menghiraukan sesuatu yang ada pada mereka, dan bertahan pada apa yang ada pada Allah Swt. (Al Junaid: Risalah Al Qusyairiyah).

Abu Yazid Busthomi ditanya orang tentang 'Arif, beliau menjawab: ”Tak terlihat dalam tidurnya selain Allah, dan tidak ada yang ia sukai kecuali Allah.” (Risalah Al Qusyairiyah).

🙏

Yang dimaksud mengenal diri ialah : dengan mengegakkan sifat kehambaan (Ubudiyah) rasa hina (di hadapan Allah) dan selalu berhajat kepada Allah dan mengenal Allah yang bersifat Kemuliaan, Ke-Agungan, dan kuasa. Dan Mengenal Diri sebagai seorang yang asing di alam dunia ini hanyai sebagai seorang musafir dari Dunia menuju akhirat. (Sirajut Tholibin).



BERKARYA/USAHA IKHTIAR DAN SIFAT KEHAMBAAN.




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul kasyaf di lingkungan Ahlus - Sunah Wal -Jama'ah, amat mengkhawatirkan adanya orang-orang yang baru selangkah memasuki arena tasawuf sudah berani mengukir kata dan ucap seperti perkataan Al Hallaj yang menghebohkan itu (Ana Al Haq). Kadang-kadang menjadikannya sebagai bahan percakapan di warung-warung kopi.

Bagaimanapun juga perbincangan demikian tidak dapat dibenarkan, ditinjau dari ajaran agama termasuk ajaran tasawuf itu sendiri.

Penegasan Syekh Abdul Karim Al Jilli pada jemputan kata no.3, mengisyaratkan untuk hal tersebut. Kalau diteliti uraian pada Kitab beliau ”Insan Kamil” ada kecenderungan kepada faham yang senada dengan Al Hallaj, tetapi ada penekanan agar tidak semudah itu meniru-niru perkataan Al Hallaj.

Sering terjadi, orang yang menuntut ilmu tasawuf yang sekaligus juga berusaha meninggalkan karya dan usaha. Padahal dirinya dan keluarganya sendiri amat menghajatkan tanggung jawabnya sebagai pimpinan rumah tangga. Hal itu terjadi karena timbulnya dua kemungkinan:

  • Karena menerima ajaran ”tajrid” (melepaskan diri dari hukum sebab dan akibat) lalu dirinya sendiri dipaksakan untuk menerapkan ajaran itu pada kehidupannya sehari-hari.

  • Karena hilangnya semangat berkarya atau berusaha akibat dari dirinya sendiri yang antara lain timbulnya frustasi atau depresi kejiwaan.

Orang yang akan melepaskan dirinya dari hukum sebab akibat (tadjrid) dengan cara yang dipaksakan, adalah suatu tindakan yang tercela, seperti yang dijelaskan oleh Syekh Ahmad Ibnu 'Athoillah:

اِرَادَتُكَ التَّجْدُ مَعَإِقَامَةِ اِللّٰهِ اِيَّكَ فِى الْاَسْبَبِ مِنَ الشَّــهْوَةِ الْخَفِيَّـةِ .

”Hasratmu untuk tadrij, padahal Allah masih menempatkanmu pada jalur sebab akibat, maka hasrat demikian, adalah berupa syahwat/nafsu yang tersembunyi.” (Al-Hikam).

”Tadrij” bisa saja terjadi terhadap makhluk Allah, misalnya terhadap seekor ulat di dalam batu tanpa kasab (usaha) dia masih bisa makan. Tetapi manusia bukanlah ulat. Kalaupun terjadi hal demikian misalnya terhadap orang yang sakit terbaring di rumah sakit, tanpa usaha dirinya sendiri, makanan untuknya masih bisa datang, namun semua itu tidak bisa dipaksakan.

Maka satu kekeliruan bila ada orang yang menuntut ilmu tasawuf, memaksakan dirinya untuk tadrij tanpa ada usaha untuk mencari makan bagi kepentingan dirinya dan keluarganya.

Seorang milyader triliuner, mungkin saja tanpa kasab (karya) dengan cara hidup santai dan mampu mewujudkan apa saja yang ia kehendaki, segala urusan rumah tangganya terjamin bahkan lebih dari cukup, sehingga mungkin kita bisa menggolongkannya sebagai seorang yang dalam kedudukan ”tadrij”. Tetapi, bisakah cara hidup demikian bisa ditiru oleh orang lain?.

Di sinilah kesan yang dapat kita tarik dari apa yang dikemukakan oleh Syekh Al-Junaid r.a. tersebut pada no.4. Ngeri juga rasanya bila kita simak kalimat beliau itu, orang yang tidak mau beramal/berkarya/usaha ikhtiar dengan unsur kesengajaan adalah lebih berat dosanya dari berzinah dan mencuri.

Timbul satu pertanyaan tentang ini; ”kenapa sebabnya ada ajaran TADRIJ, padahal manusia diperintahkan untuk beramal/usaha ikhtiar?”. Perlu dimengerti, bahwa ajaran TADRIJ tidak berarti secara total melepaskan segala macam kegiatan hidup. Tidak pula meninggalkan ”kasab”. Karena kasab itu sendiri adalah ciptaan Allah buat manusia hidup. Oleh sebab itu bukan kasab/amal/usaha ikhtiar pada hakikat. Bukan pula hukum sebab dan akibat, karena hukum itu sendiri ciptaan Allah untuk bisa dipahami oleh manusia. Senjata bukanlah mematikan, dia hanyalah alat dari suatu sebab, sehingga tidaklah seharusnya untuk ditakuti. Allah Maha Pencipta bisa saja membuat senjata itu tidak punya arti apa-apa.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa semakin tinggi tingkat makrifat seseorang, semakin tinggi pula tingkat ubudiyah dan ibadahnya. Meskipun dalam tingkat keilmuan, Ilmu Makrifat adalah termasuk dalam katagori ”ilmu tingkat tinggi”, namun tidaklah berarti meniadakan/menggugurkan syariat/hukum yang berlaku. Syariat, Thoriqat, Hakikat adalah bersatu dalam Makrifat. Apabila salah satunya digugurkan, maka bukanlah Makrifat yang benar

Para 'Arif billah di kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (Ahlul Kasyaf) semufakat dengan kalimat ini.

وَمَنْ تَفَقَّهَ بِلَا تَصَوُّفٍ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ بِلَا تَفَقُّهٍ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ تَجَعَّحَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَصَدَّقَ.

”Siapa yang hanya berpegang kepada fiqih (syariat) tanpa berpegang kepada ajaran tasawuf (hakikat) adalah fasiq. Siapa yang berpegang semata-mata ajaran tasawuf, (hakikat) tanpa fiqih (syariat) adalah zindiq. Tetapi siapa yang berpegang kepada keduanya, maka itulah yang benar.”

Satu ungkapan yang amat menarik, Sebuah tutur yang datang dari alam ketinggian, menyelinap kedasar hati yang paling dalam, dasar kalbunya Syekh Muhammad 'Abdul Jabbar An-Nafari q.s., lalu beliau rentangkan Tutur itu:

  • Tuhan berfirman kepadaku......... Aku telah menimbang amalnya orang yang beramal, namun semuanya tidak dapat menandingi makrifatnya Para 'Arif meskipun sedikit......

  • Amal sholeh yang dilakukan tanpa makrifat kepada Allah, akan berkesudah-an pada ke-sia-siaan, gugur tidak bernilai, laksana abu yang ditiup angin di Hari Angin Badai.

اَلْمَعْرِفَةُ تُوْجِبُ السَّكِيْنَةَ فِى الْبِ كَمَااَنَّ الْعِـلْمَ يُوْجُبُ السُّكُوْنَ فِى الْقْلِ فَمَنِ ازْدَادَتْ مَعْرِفَتُهُ إِزْدَادَتْ سَكِنَــتُهُ .

”Makrifat itu, memastikan datangnya tenteram pada hati, seperti juga ilmu membawa ketenteraman pada akal. Siapa yang bertambah nilai makrifatnya, bertambah pulalah rasa tenteram pada hatinya.” (Ucapan Ad-Daqqaq: Risalah Qusyairryah)

”Maka seyogyanya bagi orang yang berakal agar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menuntut ilmu makrifat dan tidak menunda-nunda dalam hal itu. Janganlah terjadi, bila maut datang menjelang, kebutaan karena kebodohan datang me-nimpa (akhirnya) tak ada lagi jalan untuk melihat cerah. Allah berfirman: DAN SIAPA YANG BUTA DALAM DUNIANYA SEKARANG INI, MAKA DI AKHIRAT KELAK MALAH LEBIH BUTA LAGI DAN SESAT JALAN. (Tanwirul Qulub).

🙏

"Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 10)



MENYAUK MAKNA MAKRIFAT DENGAN ALLAH.




”Dengan menyebut nama Allah yang Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Hampir semua Ulama Sufi dan para 'Arif Billah sepakat bahwa pada hakikatnya tiada seorang pun yang bisa mengenal Allah, kecuali dengan Allah jua. Sementara ulama Ahluz-Zhohir tidak sependapat dengan rumusan tersebut.

Sedikitnya ada tiga alasan kuat dari kalangan Sufi atas rumusan tersebut:

1. Pada awal kehadiran manusia di muka bumi - Nabi Adam a.s. - membawa pengetahuan tentang Allah Swt. dan tentang segala sesuatu, adalah karena diajarkan oleh Allah sendiri kepada beliau, yang sebelumnya beliau tidak mengerti apa-apa. Allah berfirman:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْأَسْمَـاءَ كُلَّهَـا .

”(Allah) ajarkan kepada Adam nama-nama semuanya ”. (S. Al Baqarah).

2. Lahirnya seorang anak manusia dari perut ibunya, sama sekali tidak punya pengetahuan apa-apa, seperti apa yang difirmankan oleh Allah Swt. :

وَاللّٰهُ أَخْرَجَكُوْ مِنْ بُطُوْنِ اُمَّهَاتِكُمْ لَاتَعْلَمُوْنَ شَــيْــًٔا .

”Allah yang mengeluarkan kamu dari perut ibumu, dan kamu tidak mengerti apa-apa.” (S. An-Nahl : 78)

Tentang adanya dan tersedianya apa yang dinamakan watak, bakat, intelegensia, naluri, dan lain lain-lain, adalah ”khalqiyah” (ciptaan) yang bukan bikinan manusia itu sendiri.

3. Faktor keterbatasan manusia adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapa-pun. Apa mungkin manusia dalam keterbatasannya mampu mengenal Allah kalau bukan pemberitahuan Allah sendiri melalui Para Rasul dan Kitab-kitabnya? (Baca : pada hakikatnya).

Banyak hadits Rasulullah tentang ketidak tahuan manusia a.l., sebuah hadits Qudsi:

”Semua kamu adalah sesat, kecuali orang yang kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada_Ku, Aku akan memberi petunjuk padamu. Hai hamba_Ku, semua kamu lapar dahaga, kecuali orang yang Kuberi makan, maka mintalah makan kepada_Ku, Aku akan memberi makan kepadamu. Hai hamba_Ku, semua kamu dalam keadaan telanjang bulat, kecuali orang yang Kupakaiani, maka mintalah pakaian kepada_Ku, Aku akan memberikan pakaian itu kepadamu. Hai hamba_Ku, kamu semua banyak berbuat salah sepanjang hari dan malam, Akulah yang memberi ampunan atas dosa-dosa itu semua, -kecuali syirik-mintalah ampun kepada_Ku, Aku akan ampuni kamu." (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu 'Uwanah, Ibnu Hibban dan Hakim; dari Abu Dzarrin r.a.)

Pengetahuan yang dimiliki manusia, timbul dan berkembang disebabkan adanya keterpaduan antara faktor internal (unsur-unsur khalqiyah) dengan faktor external (alam dan hubungan manusia dengan lingkungan).

Dengan jelas Allah berfirman :

وَمَا أُوْتِــيْتُمْ مَنَ العِــلْمِ اِلاَّقلِيْلًا

”Dan tidaklah ilmu yang didatangkan kepadamu, kecuali sedikit sekali.”

عَلَّمَ الِْإنْسَـانَ مَـالَمْ يَعْلَمْ (العلق: ٥)

"Allah yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak ia ketahui.” (Al 'Alaq: 5)

Maka jelaslah bahwa pada ”hakekatnya” untuk makrifat kepada Allah adalah karena Allah jua. Yakni dengan petunjuknya, dengan hidayah_Nya dan dengan kehendak_Nya. Tanpa Dia, tidak mungkin seseorang akan dapat mengenal_Nya."

Rasulullah Saw. berkata kepada Ibnu Mas'ud r.a. :

”Hai Ibnu Mas'ud, tahukan anda tafsirnya (kalimat LA HAWLA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHI? saya Ibnu Mas'ud) menjawab ”tidak”. Selanjutnya Rasulullah berkata: ”Tidak ada daya (menolak) maksiat, dan tidak ada kekuatan untuk taat kepada Allah melainkan dengan pertolongan_Nya jua. Kemudian dipukulnya pahaku dengan tangannya seraya berkata: ”Demikianlah tafsirnya yang diberitahukan Jibril kepadaku.” (Sirajut-Tholibin).

Andai kata, maksud rumus itu dibalik: ”Seseorang dapat mengenal Allah dengan kemampuan dirinya sendiri (dalam arti hakiki”). Bukankah kalimat demikian terasa ganjil?.

Dalam Al Qur'an banyak sekali keterangan yang menjelaskan:

  • bisa makan, Allah yang memberi makan.

  • bisa minum, Allah yang memberi minum.

  • sembuh dari sakit, Allah yang menyembuhkan.

  • dapat rezeki, Allah yang memberi rezeki, dan banyak lagi.

Malah dalam suatu hadits Rasulullah, bila selesai membuang hajat besar/kecil, hendaklah meng-ucapkan ”hamdalah”.

اَلْهَمْدُلِلّٰهِ الَّذِى أَذْهَبَ عَنِى الْاٰذَى وَعَافَانِى .

”Segala puja-puji hanya untuk Allah yang membersihkan kotoran dariku, dan memberi keafiatan untukku.” (hadits Shohih).

Memang pada kenyataan lahir, si orang yang membuang hajat itu sendirilah yang membersihkan kotorannya sendiri. Dia ambil air sendiri, dia mengejan sendiri dan dia gosok sendiri.

Konon lagi soal makrifat.

Kepada mereka yang tidak mau meyakini bahwa ”makrifat kepada Allah dengan Allah” dengan kata lain bahwa makrifatnya adalah kemampuannya sendiri, kepintarannya sendiri, tidak dia rasakan bahwa hal itu adalah karena karunia Allah Swt. terhadap dirinya, maka 'Arif Billah menghukumkan - bila dirinya berubah keyakinannya begitu - dirinya adalah syirik khof. Demikian pula bila mengakui dalam dirinya secara mutlak dan dalam arti hakiki bahwa dia bisa makan, minum, mendapat rezeki, adalah karena dan dengan kemampuan dirinya sendiri, atau dia sembuh sakit karena obat atau dokter, maka keyakinan demikian adalah keyakinan yang bersifat syirik.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman:

مَنْ قَالَـــ مُطِـــرً نَابٍـنوْءٍ كَفَرَ بِيْ وَاٰمَنَ بِيِ وَكَفَرَ بِذَالِكَ النَّجْمِ مَنْ قَالَـــ اَسْــقَيْنَااللّٰهُ قَدْ اٰمَنَ بِيْ وَكَفَرَ بِذَالِكَ الـنَّجْمِ.

”Sesungguhnya orang yang berkata: ”hujan ini turun karena bintang-bintang ini atau itu, maka berarti ia telah kufur kepada_Ku, dan beriman kepada bintang-bintang tersebut. Dan sesungguhnya orang yang berkata; ”Allah jua yang menurunkan hujan ini” maka dia itulah yang benar dan beriman kepada_Ku, dan kafir kepada bintang.” (R. Thabrani dari Ibnu Mas'ud r.a.)

اِنَّ الْعبْدَ عَبْدٌ وَاِنَّ الرََّبَّ رَبٌ لاَيَصِيْرُالْعَبْدُ رَبَّ وَلاَ الرَّبَّ عَبْدًا .

”Sesungguhnya, hamba adalah hamba, Tuhan adalah Tuhan, tidaklah bisa hamba menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi hamba.” (Syekh Abdul Karim Al-Jili : Insan Kamil).

”Seorang laki-laki bertanya Syekh Al Junaid: ”Ada sebagian ahli makrifat berkata - ” bahwa meninggalkan gerak (usaha ikhtiar), adalah sebagian dari pintu kemuliaan/kebajikan dan takwa ”. Lalu Syekh Junaid berkata: ” Seandainya golongan itu berkata dengan maksud menggugurkan amal (usaha) bagiku hal itu adalah suatu persoalan besar. Dibandingkan dengan dosa orang yang mencuri dan berzinah, jauh lebih baik dibandingkan dengan ucapan. ” (Sirajut-Tholibin).

قَالَ اَهْلُ اْلمُحَقِّقِيْنَ: اَامَعْرِفَةُ مَ الْقَلْبِ بِوُجُوْدِ الْوَاجِبِ الْمَوْجُوْدِ مُتَّصِفًا بِسَإَِرِ اْلكَـمَـالَاتِ .

Ahli Hakikat berkata: ”Makrifat adalah kemantapan hati untuk meyakini adanya Dzat wajibul wujud yang bersifat dengan serba kesempurnaan." (Risalah Qusyairiyah).

🙏

"Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 6)