PENDAHULUAN.

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Dunia modern dengan keanekaragaman persoalan yang dihadapi, terjadinya perubahan tata nilai, integritas budaya, kecenderungan menuju arah globalisasi dan aspek-aspek lainnya, merupakan konsekuensi logis dari suatu proses. Dampak positif maupun negatif selalu ada.
Pengamat kerohanian cukup beralasan dikala melihat perkembangan, khawatir terjadinya ketidak seimbangan antara pembinaan rohani dan jasmani, mental spiritual dengan physik material. Ketidak seimbangan tersebut pada kurun tertentu memungkinkan terjadinya akibat yang fatal bagi terwujudnya dunia baru yang dicita-citakan. Dunia yang dijalin oleh rasa cinta kasih dan kedamaian.
Tidak bisa tidak, bahwa penangkal yang paling ampuh untuk menghadapi akibat ketidak seimbangan tersebut adalah agama dengan ajaran kerohaniannya. Orang boleh saja untuk mengatakannya sebagai suatu resep usang dan klise, tetapi betapapun juga, kebenaran tidak pernah dilanda oleh virus zaman dan keusangan. Azas perikehidupan dalam keseimbangan kepentingan keduniaan dan akhirat, kepentingan materiil dan spiritual adalah suara kebenaran.
Allah Yang Maha Benar telah memberikan arahan suci dengan Firman-nya:
وَابْتَغِ فِيْمَـا اٰتَاكَ اللّٰهُ الدَّاراْلاٰخِرَةَ وَلاَتَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.
”Seyogyanya, carilah kebahagiaan akhirat pada apa yang Allah berikan (petunjuk) untukmu, namun jangan lupa bagianmu di dunia ”. ( QS. Al-Qashsh : 77)
Sudah sejak lama kalangan Ulama kebatinan Islam (Sufi) menghawatirkan ketidak seimbangan itu, sehingga nada suara, senandung dan irama dalam bentuk ucapan dan tulisan termasuk Imam Ghazali seakan-akan seperti membenci dunia dengan serba-serbinya. Sehingga timbul satu tanda tanya: ”Apakah suara mereka itu tidak bertentangan dengan azas keseimbangan yang difirmankan oleh Allah Swt.? ”, ”Bukankah semua itu cenderung membawa umat bersikap apatisme dan masa bodoh? ”. Untuk itu kita tidak seharusnya berburuk sangka, tetapi marilah kita coba pelajari dahulu realita kehidupan manusia. Manusia dihiasi dengan banyak macam kepentingan dan hajat hidup. Dalam arti global, terdapat dua pokok kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.
Untuk itu, manusia dengan nafsunya selalu berkeinginan agar semua macam kepentingan bisa berhasil semaksimal mungkin dan bisa dinikmati, FIDDUNYA HASANAH WA FIL AKHIRATI HASANAH. Untuk mewujudkan dua macam kepentingan ini, manusia memang memiliki keterbatasan. Karena itu faktor pilihan harus ada, sesuai dengan keterbatasannya. Atau dengan penentuan pilihan, misalnya sekian persen (%) untuk kepentingan dunia dan sekian persen (%) sisanya untuk kepentingan akhirat. Tingkat upaya pencapaian, umumnya lebih banyak terhadap hal yang nyata (riil).
Meskipun sudah ditentukan faktor persentase tingkat upaya pencapaian, ternyata dalam hubungan manusia sebagai makhluk sosial selalu saja terdapat perbedaan-perbedaan kepentingan dan hajat hidup antara individual, antar kelompok dan antar lingkungan yang lebih besar. Perbedaan-perbedaan kepentingan itu kadang-kadang menjurus pertentangan yang akhirnya lahir permusuhan. Manusia tenggelam dalam urusan dunianya. Garis pilihan jadi kabur. Kekaburan itu adalah ambang munafikisme.
Kalau kita amati bentuk-bentuk ungkapan kalangan Ulama Kebatinan Islam (Sufi) tentang sorotan-sorotan mereka kepada dunia, dapat disimpulkan:
”Silahkan anda untuk merebut kedua-duanya (dunia dan akhirat) kalau anda memang mampu. Tetapi kenyataannya menunjukkan betapa banyak sudah manusia yang tenggelam dalam kepentingan dunianya, yang sukar untuk diselamatkan. Bila akhir hayat datang menjelang, mereka tinggalkan dunianya tanpa membawa apa-apa. Dengan tidak membawa apa-apa, dan datang di akhirat tidak mendapat apa-apa pasti mengalami penderitaan, kesengsaraan yang sulit untuk digambarkan”.
Para 'Arif Billah dengan penuh keyakinan ditambah dengan pengalaman dan kenikmatan batin yang telah mereka rasakan, ingin berbagi rasa, meskipun mereka sadar tidaklah semua orang bisa begitu. Mereka sadar sepenuhnya dengan hadits Rasulullah Saw.:
خَيْرُا لْأُمُوْرِ اَوْسَاطُـــها.
”Sebaik-baik urusan adalah tengah-tengah.”
Pengertian ”tengah-tengah” (awsath) adalah ”keseimbangan”. Keseimbangan yang hakiki menurut mereka adalah terletak pada ”keadaan yang tidak terbatas”. Pada suatu ruang dan keadaan yang terbatas, tidak mungkin ditemukan ”tengah-tengah”
Pada titik tengah itu pasti ada titik tengah yang kecil, lalu pada titik kecil itu ada lagi titik tengah yang lebih kecil, tarohlah dikatakan sebesar atom (a = tidak, tom = terbagi), lalu mungkinkah dapat ditemukan ”titik” pada ”atom”, yang tidak bisa dibagi lagi? Jawabnya ”relatif”.
Lalu bagaimanakah untuk mencapai keadaan yang ”awsath” seperti yang disabdakan oleh Rasulullah itu?. Mereka menjawab; ”Di hadirat Allah Swt.”. Keadaan itulah yang tidak ada batasnya, yang dalam Al Qur'an:
فِى مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ .
”Pada kedudukan yang pasti benar di samping Allah Yang Maha Memiliki/Maha Menentukan ”. (QS. Al Qamar: 55).
Karena menyadari bahwa manusia dengan keterbatasannya, agak sulit menempatkan diri pada dua pilihan secara bersamaan, mereka memberatkan pilihannya pada kepentingan akhirat.
Pergulatan dunia mungkin saja bisa meraih hasil yang sebesar-besarnya, tarohlah sampai triliun dolar, tetapi tidak kekal, meninggalkan atau ditinggalkan. Dan mereka yakin sepenuhnya bahwa yang akan mereka dapatkan tanpa terhingga banyaknya tidak terbatas dan kekal abadi.
Lahirlah ajaran mereka ini yang disauk dari Al Qur'an dan hadits Rasulullah Saw. serta para Sahabat, sebagai sumber yang tidak akan habis-habisnya seperti do'a yang diajarkan oleh Rasulullah:
اَللّٰهُمَّ اَظِلَّتِيْ تَحْتَ ظٍلِّكَ يَوْمَ لَاظِلَّ اِلاَّظِلُكَ وَاءَسْقِفِ بِكَأسِ نَبِيَّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وَسَـلَّمَ ثُرْبَتً هَنِٓئَتً لاَ أَظْعَاءَبَعْدَهُ اَبَدًا . يَاَذاألجَلَا لِــوألِٕاحَرَامِ .
”Ya Allah, naungilah hamba di bawah naungan_Mu pada hari yang tiada naungan yang paling baik kecuali di bawah naungan_Mu. Berilah hamba minum dengan cangkir Nabi_Mu Muhammad Saw., suatu minuman yang menyegarkan yang tidak akan merasa haus lagi sesudah itu selama-lamanya. Ya Allah, Yang Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan”.
Konsep yang mereka sodorkan, ajaran MAKRIFATULLAH yang mencakup Musyahadah, Mukasyafah dan Mahabbah adalah dengan dasar-dasar yang jelas.
Rasulullah menegaskan:
اَوَّلُــــ الدِّيْنِ مَعْرِفَتُ اللّٰهِ (الحديث)
” Mula-mula beragama adalah makrifat kepada Allah”.
Dalam Al Qur'an dikemukakan:
فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَآءَكَ وَبَصَرُكَ أليَوْرَحَدِيْدٌ .
”Kami buka pandanganmu dari yang menutupi-mu, pada hari itu akan terang, jelas”.
Terang dan jelasnya sesuatu, berarti tertutupnya pintu hati dan akal dari semua bentuk keragu-raguan dan kesamaran. Yang paling ditakuti adalah kesamaran dan keragu-raguan pandangan. Kedua-duanya tidak lebih baik dari pada kebodohan. Tutupan yang hitam pekat, mengerikan dan menyesakkan dada.
Firman Allah:
فَاِنَّــهَـــالاَتَعْــمَى اْلاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى اْلقُلُوْبُ اْلَتِيْ فِى الصُّدُوْرِ .
”Maka sesungguhnya, bukanlah matanya yang buta, tetapi (mata) hati yang berada di rongga dadanya”. (Al-Haj: 46)
Para Arif Billah itu berkata dengan jujur dan ketulusan hatinya:
”Kami selalu merasakan kenikmatan dan kelezatan yang sama sekali tidak pernah dirasakan oleh para Raja dan penguasa dunia. Andaikata mereka tahu, pasti mereka rampas semua kenikmatan itu dari kami, lalu mereka singkirkan kami ”.
Kenikmatan itu adalah ”kasyaf”, terbuka tirai penutup segala sesuatu, yang tampak hanyalah ke-Esa-an, ke-Agung-an, ke-Indahan, ke-Perkasaan dan ke-Sempurnaan seluruh Asma dan Sifat Allah Jalla Jalaluhu.
Kadang kala Para 'Arif Billah berdialog pada dirinya sendiri dengan hati nuraninya yang polos: ”Kenapa aku bisa melihat semuanya ini? ”. ”Darimana datangnya kemampuan lihatku ini?”, ”Siapa yang dilihat dan siapa pula yang melihat?. Aku?????
Dia ”tahayyur” , dia bingung, bingung dalam ke-Maha Nyatakan. Dia berfikir lagi: ”Mata tidak pernah dapat melihat cahaya, bila tidak karena datangnya cahaya”. Mereka terhampar dalam lembah ”cinta” (mahabbah), tenggelam dalam cinta dan dicintai. Mereka tidak lagi terpengaruh oleh segala macam tanya dan jawab, tidak pula hiraukan kata dan 'itibar. Seperti apa yang diucapkan oleh Syekh Al-Junaid:
مَنْ عَرَفَالْحَقِقَتَ فِى التَوْصِيْدِ سَقَطَ عَنْهُ لِمَ وَکَيْفَ .
”Orang yang mengerti hakikat tauhid, gugurlah segala tanya dan gambaran: kenapa dan bagaimana” (Ris. Qusy.).
Penelaahan MAKRIFAT, MUSYAHADAH, MUKASYAFAH DAN MAHABBAH adalah sangat nikmat, konon lagi bila dapat merasakannya. Rasulullah Saw, bersabda:
”Siapa yang ingin menjumpai Allah, Allah pun ingin menjumpainya. Siapa yang tidak ingin menjumpai Allah, maka Allah pun tidak ada keinginan untuk menjumpainya.” (H.R. Ahmad, Bukhari, Muslim, Turmudzi dan Nasa'i, Radhiallahu 'anhum).
Menyimak segala ungkapan Ulama Sufi akan terasa kenikmatan tersendiri.
"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 21)
